Exposebanten.com | TANGERANG — Anggota MPR RI Fraksi PKB sekaligus Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Moh. Rano Alfath, S.H., M.H., menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Hotel Narita Tangerang, Jalan KH. Hasyim Ashari Nomor 63–65, Kota Tangerang, Banten.
Kegiatan yang diikuti kader dan pengurus DPC PKB Kota Tangerang tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman kebangsaan sekaligus meneguhkan tanggung jawab partai dalam melayani masyarakat.
Mengangkat semangat penguatan ideologi kebangsaan, empati sosial, dan politik pelayanan, Rano menekankan bahwa kekuatan organisasi perlu dibangun bersama kepekaan terhadap keadaan masyarakat.
Ia mengajak kader menjadikan nilai-nilai Empat Pilar sebagai pedoman dalam bersikap, menyerap aspirasi, serta merespons persoalan warga, termasuk penderitaan saudara sebangsa yang terdampak bencana.
Pembahasan diarahkan pada keterkaitan antara pemahaman Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika dengan tanggung jawab kader di tengah masyarakat.
Dari landasan tersebut, Rano menyoroti pentingnya solidaritas kemanusiaan, kedewasaan dalam menghadapi perbedaan, serta penguatan kerja partai yang berangkat dari kebutuhan warga.
“Penguatan partai harus berjalan bersama penguatan tanggung jawab kebangsaan. Kita ingin kader memahami bahwa setiap langkah politik membawa konsekuensi bagi masyarakat. Karena itu, pemahaman terhadap Empat Pilar harus tercermin dalam cara kita mendengar, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, dan memperjuangkan kepentingan warga,” ujar Rano, Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, Pancasila memberi dasar moral bagi kerja politik melalui penghormatan terhadap kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.
Sementara itu, konstitusi menjadi pegangan untuk memperjuangkan hak warga melalui mekanisme yang demokratis dan bertanggung jawab. Komitmen terhadap NKRI serta Bhinneka Tunggal Ika juga menuntut kader menjaga persaudaraan di tengah keragaman masyarakat.
Rano menilai pemahaman tersebut penting bagi kader di Kota Tangerang yang berinteraksi dengan warga dari beragam latar belakang. Perbedaan agama, suku, pekerjaan, maupun pilihan politik harus dihadapi dengan sikap terbuka serta kesediaan mencari kepentingan bersama.
“Kader harus mampu hadir di tengah siapa pun dengan sikap yang menghormati. Dengarkan warga tanpa lebih dulu menilai latar belakangnya. Ketika ada persoalan, cari penyelesaian yang adil. Persatuan akan semakin kuat ketika masyarakat merasakan bahwa perbedaan tidak menghalangi mereka untuk memperoleh perhatian dan pelayanan,” katanya.
Rano yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPP PKB memberikan perhatian khusus pada pentingnya mengasah empati terhadap korban bencana dan masyarakat yang menghadapi kesulitan. Ia mengingatkan bahwa penderitaan warga di daerah lain tetap merupakan tanggung jawab kemanusiaan bersama sebagai satu bangsa.
“Saya ingin kader terus mengasah empati. Ketika saudara-saudara kita tertimpa bencana, kehilangan tempat tinggal, kehilangan mata pencaharian, atau harus mengungsi bersama keluarganya, jangan biarkan penderitaan mereka berlalu begitu saja di layar ponsel kita. Bayangkan bagaimana jika keadaan itu menimpa keluarga kita sendiri. Dari kesadaran itulah tumbuh dorongan untuk membantu dengan sungguh-sungguh,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa solidaritas kebangsaan harus melampaui batas wilayah dan kepentingan kelompok. Jarak geografis tidak seharusnya mengurangi kepedulian terhadap sesama warga Indonesia, begitu pula perbedaan identitas maupun pilihan politik.
“Saudara kita yang sedang kesulitan mungkin tinggal jauh dari Tangerang. Kita mungkin tidak pernah bertemu dan tidak mengenal nama mereka. Tetapi mereka tetap bagian dari keluarga besar Indonesia. Semangat kebangsaan menjadi nyata ketika kita bersedia ikut memikirkan keselamatan dan pemulihan mereka, sesuai kemampuan yang kita miliki,” tegas Rano.
Menurutnya, empati perlu diterjemahkan menjadi bantuan yang sesuai kebutuhan. Kader dapat berkontribusi melalui penggalangan bantuan yang transparan, penyampaian informasi terverifikasi, maupun koordinasi dengan lembaga dan pihak yang berwenang agar dukungan tersalurkan secara tepat.
Rano juga mengingatkan pentingnya menjaga martabat warga terdampak bencana. Dokumentasi kegiatan sosial harus dilakukan secara patut dan tidak mengganggu privasi maupun menambah beban psikologis korban.
“Bertanyalah terlebih dahulu apa yang dibutuhkan. Pastikan bantuan yang dihimpun jelas pengelolaannya dan tepat penyalurannya. Kalau membagikan informasi, periksa kebenarannya. Kalau mendokumentasikan kegiatan, hormati keadaan korban. Orang yang sedang mengalami musibah membutuhkan pertolongan dan rasa aman, sehingga seluruh cara kita membantu harus menjaga martabat mereka,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rano mendorong kader membangun kepedulian sejak sebelum terjadi keadaan darurat. Kepekaan terhadap kondisi lingkungan, perhatian kepada warga rentan, serta komunikasi dengan pengurus lingkungan dan instansi terkait merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan masyarakat.
Ia mengajak kader mengenali persoalan di sekitar tempat tinggalnya, mulai dari kesulitan mengakses layanan, kondisi lingkungan yang berisiko, hingga kebutuhan lansia, penyandang disabilitas, dan keluarga yang memerlukan pendampingan.
“Empati bisa dilatih setiap hari. Kenali tetangga yang membutuhkan bantuan, dengarkan keluarga yang sedang kesulitan, dan perhatikan keadaan lingkungan. Ketika kita terbiasa peduli pada persoalan yang dekat, kita akan lebih siap bergerak saat masyarakat menghadapi keadaan yang lebih berat,” jelasnya.
Dalam konteks penguatan partai, Rano menegaskan bahwa kekompakan pengurus harus menghasilkan kerja yang terarah dan dapat dirasakan masyarakat. Ia mendorong jajaran DPC PKB Kota Tangerang memperkuat komunikasi internal, pendidikan kader, serta tindak lanjut atas aspirasi yang diterima.
Sekretariat dan jaringan kepengurusan, menurutnya, perlu menjadi tempat bagi warga untuk menyampaikan persoalan serta memperoleh penjelasan mengenai langkah yang dapat ditempuh. Setiap aspirasi harus ditangani sesuai kewenangan, dengan komunikasi yang jelas dan pendampingan yang konsisten.
“Partai yang kuat memiliki kader yang bisa bekerja bersama dan dipercaya masyarakat. Kepercayaan itu dibangun ketika warga merasa didengar dan melihat ada tindak lanjut atas persoalannya. Jangan mudah menjanjikan sesuatu. Jelaskan apa yang bisa kita perjuangkan, hubungkan dengan pihak yang berwenang, lalu kawal perkembangannya,” kata Rano.
Ia turut mengingatkan kader agar menjaga kedewasaan dalam komunikasi publik, terutama di ruang digital. Kritik terhadap kebijakan tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan dengan dasar yang jelas serta diarahkan pada perbaikan.
Menurutnya, kader memiliki tanggung jawab untuk membantu masyarakat memahami persoalan secara utuh, menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi, dan menjaga agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi permusuhan.
“Kita harus tegas memperjuangkan kepentingan masyarakat sekaligus tetap menghormati sesama. Jangan memperbesar kecemasan dengan informasi yang belum jelas. Gunakan jaringan dan pengaruh yang kita miliki untuk membuka dialog, menjelaskan persoalan, serta membantu menemukan jalan keluar,” tambahnya.
Menutup kegiatan, Rano mengajak kader dan pengurus DPC PKB Kota Tangerang menjadikan penguatan ideologi sebagai proses yang berkelanjutan. Pemahaman kebangsaan harus terus dihidupkan melalui disiplin organisasi, keteladanan, dan pelayanan kepada masyarakat.
“Sepulang dari kegiatan ini, saya berharap kita membawa semangat untuk bekerja lebih peka dan lebih bertanggung jawab. Perkuat organisasi, jaga persaudaraan, dan hadir ketika masyarakat membutuhkan. Kepada saudara-saudara kita yang tertimpa bencana, tunjukkan bahwa mereka memiliki sesama anak bangsa yang peduli. Dengan kerja seperti itulah PKB membangun kepercayaan sekaligus ikut merawat kekuatan Indonesia,” pungkasnya. ***

