Exposebanten.com | JAKARTA – Bagi sebagian orang, touring sepeda motor mungkin hanya urusan adu kecepatan atau menaklukkan jarak terjauh. Namun, bagi Manja Rider Community (MRC), aspal dan roda dua adalah ruang untuk merajut kebersamaan, menikmati alam, dan mempererat ikatan layaknya keluarga.
Komunitas rider asal Jabodetabek yang kini beranggotakan sekitar 40 orang tersebut sukses mengeksplorasi puluhan destinasi eksotis di Jawa Barat hingga Banten sepanjang tahun 2015 hingga 2026.
Siapa sangka, komunitas petualang ini awalnya lahir dari cerita perjalanan yang sangat sederhana. Sang Ketua MRC, Jihan Ibnu, menuturkan bahwa segalanya bermula pada tahun 2015.
Saat itu, ia dan istrinya, Ericha Putri, hanya gemar melakukan motoran santai berdua ke wilayah Puncak, Cariu, hingga Sukabumi.
Ritme petualangan mereka mulai berubah dinamis ketika sepupu dekat mereka, Wira Fernandez, memutuskan untuk ikut bergabung.
“Dari kebersamaan yang awalnya hanya melibatkan tiga orang saja, MRC perlahan-lahan tumbuh berkembang hingga menyentuh angka 40 anggota di tahun 2026 ini,” ujar Jihan kepada Wartawan, Rabu (23/9/2026).
Mengusung jargon “Tetap Satu Keluarga”, MRC menanamkan nilai bahwa perjalanan bukan sekadar titik finish atau sampai di tujuan.
Setiap meter jalur yang dilalui, pemandangan yang tersaji, warung kopi tempat melepas lelah, hingga penginapan dan vila persinggahan adalah bagian utuh dari pengalaman yang tak ternilai.
Untuk menegaskan karakter mereka yang tangguh, identitas “MRC – No One Knows” pun dipilih guna mewakili ekspresi kecintaan mereka pada dunia adventure dan enduro.
Selama 11 tahun terakhir, jejak roda MRC telah menyapu berbagai sudut keindahan bentang alam. Di wilayah Bogor, mereka telah merambah Cipanas, Leuwiliang, hingga indahnya Kebun Teh Nirmala dan Citalahab.
Bergeser ke wilayah Banten, destinasi pesisir seperti Pantai Carita, Tanjung Lesung, Sawarna, hingga kawasan konservasi Ujung Kulon dan Anak Gunung Krakatau sudah berhasil mereka sambangi.
Sementara di Sukabumi, mereka telah menjelajahi eksotisme Kasepuhan Ciptagelar, Geopark Ciletuh, hingga Penangkaran Penyu Ujung Genteng.
Menariknya, dari sekian banyak rute penjelajahan di tanah Sunda, wilayah Badui di Banten tercatat sebagai satu-satunya kawasan impian yang hingga saat ini belum sempat dikunjungi oleh MRC.
Solidnya perjalanan MRC di tengah medan adventure yang menantang tidak lepas dari manajemen tim yang rapi.
Jihan Ibnu disokong oleh sejumlah nama yang mengisi pos penting diantaranya, Nurul Kurnaen sebagai Juru Bicara, Wira Fernandez sebagai Koordinator Tim Peralatan dan Dokumentasi.
Selain itu, Arifin Ghetto sebagai Koordinator Tim Sapu Jagad (penjaga barisan belakang), Iwan Peyek sebagai Koordinator Tim Rute Perjalanan dan Evakuasi, dr. Estetika Yuli Asterini, Sp.FK yang bertanggung jawab di bidang kesehatan, dan Zidan-Zikra sebagai duet Koordinator Tim Mekanik.
Kekompakan ini juga diperkuat oleh anggota inti lainnya seperti Oktaziska, Jumala, Setiawan, Fariz, Bunyamin, serta almarhum Bambang Pramono, yang namanya tetap abadi dikenang dalam sejarah panjang komunitas.
Kini, MRC tidak hanya bergerak secara internal. Melalui jaringan pergaulan sang ketua, MRC aktif terhubung dengan ekosistem rider Jabodetabek lainnya, seperti IRA (Indonesia Ride Adventure), MBC Bogor, Void Chapter Bogor, hingga Ontahood Chapter Bogor.
Melalui dokumentasi visual yang kuat serta identitas visual berbentuk perisai hitam yang gagah, MRC terus memperkenalkan pengalaman berkendara dual purpose yang aman, hangat, dan penuh makna keindahan alam. (Abo)

