foto ilustrasi
Exposebanten.com – Ada sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tapi jika direnungkan, ia menyimpan peta jalan untuk menaklukkan dunia.
“Kuasai dunia dengan ilmu. Jalannya adalah belajar. Senjatanya adalah menulis. Kekuatannya berasal dari membaca. Maka, Iqra’, bacalah!”
Kalimat itu bukan sekadar motivasi. Itu adalah rumus peradaban. Rumus yang pertama kali turun bukan di ruang kuliah, bukan di perpustakaan megah, bukan pula di istana raja.
Ia turun di sebuah gua yang sunyi, di tengah kegelapan malam, kepada seorang laki-laki yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis.
“Iqra‘!” kata Jibril.
“Bacalah!”
Dan dari satu kata itulah, dunia berubah selamanya.
Dunia tidak dikuasai oleh orang yang paling kuat ototnya. Tidak juga oleh orang yang paling banyak hartanya. Dunia dikuasai oleh orang yang paling banyak ilmunya.
Sejarah membuktikan itu. Bangsa-bangsa yang dulu kecil dan tertinggal, tiba-tiba bangkit menjadi besar karena mereka belajar.
Sebaliknya, bangsa-bangsa yang dulu besar dan berjaya, runtuh perlahan karena mereka berhenti belajar.
Belajar adalah jalan. Jalan itu kadang melelahkan. Kadang membosankan. Kadang membuat kita merasa bodoh. Tapi tidak ada jalan pintas menuju kemuliaan selain jalan ini.
Orang yang berhenti belajar, sejatinya sedang berhenti berjalan. Dan orang yang berhenti berjalan, perlahan akan ditinggalkan oleh zaman.
Jika belajar adalah jalan, maka membaca adalah kekuatannya.
Mengapa? Karena membaca adalah cara paling cepat untuk meminjam umur orang lain. Ketika kita membaca satu buku, kita sedang meminjam puluhan tahun pengalaman penulisnya. Kita sedang meminjam kegagalannya, agar kita tidak perlu mengulangi kegagalan yang sama. Kita sedang meminjam keberhasilannya, agar kita bisa melangkah lebih jauh.
Orang yang tidak membaca, hidupnya hanya satu kali: hidupnya sendiri. Tapi orang yang rajin membaca, hidupnya seribu kali: ia hidup di zaman para nabi, ia hidup di zaman para raja, ia hidup di zaman para ilmuwan, ia hidup di masa depan yang bahkan belum terjadi.
Itulah mengapa wahyu pertama bukan “Berperanglah!” Bukan “Berkuasalah!” Bukan “Kayalah!”
Wahyu pertama adalah “Bacalah!”
Karena sebelum kita menguasai dunia, kita harus lebih dulu menguasai ilmu. Dan sebelum kita menguasai ilmu, kita harus lebih dulu mau membaca.
Jika membaca adalah cara kita mengambil ilmu dari dunia, maka menulis adalah cara kita memberikan ilmu kepada dunia.
Ilmu yang hanya dibaca, akan mati bersama pemiliknya. Tapi ilmu yang ditulis, akan hidup selamanya. Ia akan dibaca oleh anak cucu kita. Ia akan dibaca oleh orang yang belum lahir. Ia akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, bahkan ketika jasad kita sudah menjadi tanah.
Lihatlah Imam Bukhari. Ia wafat lebih dari 1.000 tahun lalu, tapi bukunya masih dibaca sampai hari ini.
Lihatlah Ibnu Sina. Ia wafat ratusan tahun lalu, tapi ilmunya masih diajarkan di fakultas kedokteran.
Lihatlah para ulama, para ilmuwan, para penulis. Tubuh mereka sudah tiada, tapi pena mereka masih berbicara.
Itulah kekuatan menulis. Menulis adalah cara manusia melawan lupa. Menulis adalah cara manusia melawan kematian.
Orang yang membaca, ia akan pintar. Tapi orang yang menulis, ia akan abadi.
Maka, Iqra’, Bacalah! Kini, kalimat itu kembali kepada kita.
Di zaman di mana semua orang bisa mengakses ilmu hanya dengan satu sentuhan di ponsel, justru banyak yang malas membaca. Di zaman di mana semua orang bisa menulis dan menyebarkan karyanya ke seluruh dunia, justru banyak yang lebih sibuk mengomentari daripada berkarya.
Padahal, rumusnya tidak pernah berubah dari 14 abad lalu hingga hari ini:
Mau kuasai dunia? Kuasai ilmu.
Mau kuasai ilmu? Belajarlah.
Mau belajar? Bacalah.
Mau abadi? Menulislah.
Bacalah satu halaman hari ini. Tulislah satu paragraf hari ini. Belajarlah satu ilmu baru hari ini.
Karena dunia ini tidak menunggu orang yang paling hebat. Dunia ini menunggu orang yang paling mau belajar, paling mau membaca, dan paling mau menulis.
Dan siapa tahu, dari satu halaman yang kamu baca malam ini, dari satu paragraf yang kamu tulis malam ini, akan lahir perubahan besar yang akan dikenang dunia.
Seperti dulu, dari satu kata “Iqra'” yang turun di Gua Hira, lahir sebuah peradaban yang menerangi dunia. (Abo)
