ExposeBanten.com – Di ujung jalan menuju kawasan adat Kanekes, berdiri sebuah tugu yang selalu menjadi titik awal setiap perjalanan. Tugu itu tidak megah, tidak pula berkilau. Tapi setiap orang yang datang ke Baduy, pasti berhenti di sini.
Inilah Tugu Baduy di Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Tugu Selamat Datang di Ciboleger yang lengkap dengan patung keluarga petani.
Di atas tugu bundar itu, berdiri empat sosok, dua orang dewasa dan dua anak kecil. Sang ayah memakai topi caping, tangannya terentang ke depan, seolah sedang menunjuk jalan ke arah kampung-kampung adat di balik perbukitan Kendeng.
Di sampingnya, sang ibu berdiri tegak, memegang hasil bumi. Sementara di depan mereka, dua anak kecil mengangkat kedua tangannya ke langit, menggenggam tangan orang tuanya.
Itulah potret keluarga Urang Kanekes. Keluarga petani yang hidup dari ladang, dari hutan, dan dari kesederhanaan.
Di bawahnya, tertulis jelas di badan tugu, Ciboleger. Sebuah nama yang kini dikenal hingga mancanegara sebagai gerbang utama menuju Suku Baduy.
Ciboleger adalah perbatasan antara dua dunia. Di belakang tugu ini, ada pasar, ada kendaraan, ada sinyal handphone, ada warung dan hiruk pikuk dunia luar. Di depan tugu ini, begitu melangkah ke dalam, ada dunia yang berjalan dengan aturan yang sama selama ratusan tahun: tidak boleh merusak hutan, tidak boleh mengubah adat, hidup harus selaras dengan alam.
Masyarakat Baduy sendiri menyebut dirinya Urang Kanekes. Mereka bermukim di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, tepat di kaki Pegunungan. Mereka terbagi menjadi Baduy Dalam di kampung Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana, serta Baduy Luar yang tersebar di puluhan kampung penyangga.
Bagi Urang Kanekes, tugu ini bukan sekadar penanda wilayah. Ia adalah pesan penyambutan sekaligus pengingat. Setiap tamu yang datang, yang dalam bahasa mereka disebut ‘Saba Budaya Baduy’ atau silaturahmi kebudayaan, diharapkan datang dengan niat baik, tidak merusak, tidak mengambil yang bukan haknya, dan menghormati pikukuh atau aturan adat yang dijaga ketat.
Dari foto yang diambil warga pada Kamis (5/11/2026) ini, terlihat kondisi tugu masih berdiri tegak dengan latar perbukitan hijau yang masih asri. Di sekitarnya, deretan atap genteng warung warga menjadi saksi bahwa Ciboleger kini hidup dari denyut kunjungan wisata budaya.
Namun, seperti halnya tugu bersejarah lainnya, Tugu Baduy ini juga butuh perhatian. Cat dasar tugu yang mulai memudar dan lumut yang menempel menjadi pengingat bahwa ikon gerbang Baduy ini perlu dirawat bersama, agar tetap layak menjadi wajah pertama Kabupaten Lebak di mata dunia.
Karena sebelum wisatawan mendengar suara sungai Ciujung, sebelum mereka berjalan kaki berjam-jam menembus hutan menuju Baduy Dalam, mereka akan lebih dulu bertemu dengan tugu ini. Dan dari tugu inilah, cerita tentang kesederhanaan, kejujuran, dan kecintaan pada alam itu dimulai. (Abo)
