Foto ilustrasi
Exposebanten.com – Ada satu perkara yang paling ditakutkan oleh Ali bin Abi Thalib atas umat ini. Bukan kemiskinan. Bukan musuh dari luar. Bukan pula kekalahan di medan perang.
Yang paling ia takutkan adalah dua hal yang justru tinggal di dalam diri kita sendiri: mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan.
Pesan itu diabadikan dalam kitab klasik Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya karya Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Al Ashbahani, jilid 1 halaman 56.
Sebuah kitab yang berisi kisah-kisah para kekasih Allah. Dan di antara semua kisah itu, pesan Ali ini terasa seperti ditujukan langsung untuk kita yang hidup di tahun 2026.
“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan,” ucap Ali bin Abi Thalib dalam kitab klasik Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya.
Ali menjelaskannya dengan kalimat yang sangat tajam dan jujur, “Adapun mengikuti hawa nafsu, maka hal itu menghalangi seseorang dari kebenaran”.
Hawa nafsu, menurut Ali, bukan sekadar soal syahwat. Hawa nafsu adalah ketika keinginan pribadi kita menjadi lebih besar dari kebenaran. Ketika kita tahu yang benar, tapi kita memilih yang enak. Ketika kita tahu yang salah, tapi kita tetap melakukannya karena nafsu kita bilang, “tidak apa-apa, sekali saja.”
Di situlah kebenaran mulai tertutup. Bukan karena kebenaran hilang, tapi karena nafsu kita menutup mata kita untuk melihatnya.
Lalu yang kedua, yang tidak kalah berbahaya: panjang angan-angan.
“Sedangkan panjang angan-angan membuat seseorang melupakan akhirat,” ungkapnya dalam pesan dalam kitab klasik Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya.
Panjang angan-angan adalah penyakit orang yang merasa masih punya banyak waktu. Merasa masih muda. Merasa masih sehat. Merasa kematian itu masih jauh.
Padahal, kata Ali, dunia ini tidak sedang diam di tempat. Dunia sedang berjalan menjauh dari kita.
“Ketahuilah, sesungguhnya dunia telah beranjak pergi menjauh. Ketahuilah pula, sesungguhnya akhirat telah datang mendekat,” ujarnya di kitab klasik Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya
Setiap hari yang kita lewati, sejatinya adalah satu langkah dunia meninggalkan kita. Dan satu langkah akhirat mendekati kita.
Masing-masing dari keduanya memiliki pengikut. Dunia punya pengikutnya. Akhirat pun punya pengikutnya.
“Maka jadilah kalian pengikut akhirat, dan janganlah menjadi pengikut dunia,” pesan Ali.
Pengikut dunia adalah mereka yang hidupnya hanya untuk dunia. Bangun untuk dunia. Tidur untuk dunia. Semua diukur dengan dunia: berapa uangnya, berapa jabatannya, berapa pengikutnya.
Sedangkan pengikut akhirat adalah mereka yang menjadikan dunia sebagai jembatan, bukan sebagai tujuan. Mereka bekerja, tapi tidak diperbudak pekerjaan. Mereka mencari rezeki, tapi tidak menjual harga diri. Mereka menikmati dunia, tapi tidak tenggelam di dalamnya.
Di akhir pesannya, Ali menutup dengan kalimat yang paling menampar dan paling menggetarkan hati.
“Sebab, hari ini adalah waktu untuk beramal, bukan untuk diperhitungkan. Adapun esok adalah waktu perhitungan, bukan lagi waktu untuk beramal.”
Hari ini, kita masih bisa beramal. Kita masih bisa meminta maaf. Kita masih bisa memperbaiki shalat. Kita masih bisa bersedekah. Kita masih bisa memaafkan orang yang menyakiti kita. Hari ini, buku amal kita masih terbuka.
Tapi esok, ketika kita sudah berada di hadapan Allah, buku itu sudah tertutup. Tidak ada lagi waktu untuk menambah amal. Yang ada hanya waktu untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah kita tulis hari ini.
Pesan Ali bin Abi Thalib ini bukan pesan untuk orang yang sudah tua saja. Bukan pesan untuk orang yang sudah sakit saja. Ini pesan untuk kita semua yang masih merasa punya banyak waktu.
Karena pada akhirnya, yang paling berbahaya bukan kehabisan uang. Bukan kehabisan jabatan. Bukan kehabisan pengikut.
Yang paling berbahaya adalah kehabisan waktu untuk beramal, sementara kita masih sibuk mengejar dunia yang sudah beranjak pergi. (Abo)
