Exposebanten.com | RUBLIKASI OPINI – Ibarat bunglon. Pergantian warna saat bunglon menetap disuatu tempat lalu pindah ke tempat lain disebut keindahan. Sayangnya, bagi Sebagian orang, bunglon adalah binatang yag sering dikonotasikan secara negatif. Ada yang mengistilahkan orang yang suka berpindah-pindah itu misalnya sebagai bunglon. Istilah itu tentu saja sering kita dengar dan baca.
Begitupula dengan konteks seorang aktivis yang ingin memulai dunia bisnis. Apakah ia akan dicap sebagai “bunglon” yang tidak memiliki pendiriaan oleh rekan-rekan seperjuangannya? Atau sebaliknya, ia akan dipuji karena dengan perubahan itu ia mampu menciptakan sebuah peradaban yang lebih baik sebagaimana cita-cita perjuangan Bersama kawan seperjuangannya.
Apakah seorang aktivis yang biasanya “terkenal” memperjuangkan kelompok lemah, lalu memilih terjun kedunia bisnis dimana untung rugi sebagai panglimanya bisa tetap konsisten?
Dapatkah mereka menjaga cita-cita dan idealisme perjuangan yang selama ini ia “koar-koarkan” saat menjadi aktivis?
Mengapa aktivis terjun ke dunia bisnis? Bukankah mereka sebaiknya konsisten saja bergerak di dunia sosial yang selama ini melekat pada perjuangan mereka?
Lalu, salahkah jika aktivis terjun ke dunia bisnis seperti seorang profesional lainnya? Singkatnya, apakah aktivis tidak boleh kaya?
Untuk menjawabnya dibutuhkan sebuah kajian mendalam. Sebab, aktivis juga manusia yang memiliki variable rumit sebagaimana kelompok manusia lainnya.
Namun, dari apa yang dituliskan diatas, beradasarkan pengalaman penulis, menjadi aktivis yang kemudian terjun ke dunia bisnis memang membutuhkan konsistensi agar tidak di cap bunglon. Hari ini mengklaim sebagai pebisnis, esoknya membawa proposal kegiatan sosial.
Berdasarkan pengalaman penulis, untuk merubah paradigma yang tadinya aktivis kemudian terjun ke bisnis maka hanya bisa dibuktikan dengan waktu. Tanpa adanya pembuktian dari waktu, bisnisnya hanya akan “matang” setengah. Waktu dalam konteks ini bisa sebentar bisa juga lama. Tergantung dari kegigihan dirinya.
Aktivis bisa saja mengaku memiliki bisnis, tetapi untuk menjadi pebisnis tidak seinstan “klaim” yang biasa ia katakan. Sebab, menjadi seorang pebisnis beda dengan menjadi seorang pedagang. Banyak aktivis yang bisa berdagang, tetapi belum tentu pandai membangun bisnis. Karena, bisnis dibangun dengan system, sedangkan berdagang bergantung pada insting si owner dalam hal ini aktivis tersebut.
Konskwensinya, jika saat menjadi aktivis dia selalu mengandalkan “insting lapangan”, disaat ia menjadi pebisnis analisanya berdasarkan pada data riset dan harga pasar. Jika dulu cara menghitung logistik dengan cara asal-asalan, maka saat menjadi pebisnis setiap 1 rupiah pun yang ia dapat akan dicatat secara detail.
Ini hanya salah satu contoh betapa paradigma berpikir seorang aktivis harus disesuaikan karena akan mempengaruhi pikiran mereka saat terjun ke bisnis. Tanpa adanya perubahan paradigma mendasar, khususnya dalam membaca “angka”, “margin” serta pasar, maka seorang aktivis akan terjebak pada kegagalan memahami dunia bisnis.
Untuk soal mengkaji, seorang aktivis tidak perlu diragukan. Tinggal bagaimana mengkolaborasikan data, pengalaman dan teori yang selama ini mereka dapatkan diterapkan dalam dunia bisnis.
Terakhir, sebagaimana pembuka tulisan diatas, apakah tujuan seorang aktivis terjun ke dunia bisnis jika dari “sononya” aktivis itu identik dengan perjuangan sosial an sich? Lalu, untuk apa mereka mengambil “ladang” orang lain? Motivasi apa yang membuat mereka beralih? Apakah karena keuntungan semata? Atau karena “takut miskin” karena berprofesi sebagai aktivis abadi sebagaimana yang ia lihat dari “senior-seniornya” yang kurang beruntung?
Untuk menjawab itu, penulis tidak ingin menggenaralisir jawaban semua aktivis yang hari ini sedang berjuang membangun bisnisnya.
Hanya saja, berdasarkan pengalaman subyektif penulis, bahwa seseorang yang tadinya aktivis sebagaimana penulis alami, lalu berbisnis, motivasinya sangat sederhana, yaitu “tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah”. Selain itu, perjuangan penulis ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang yang termanifestasikan dengan menciptakan ladang pekerjaan melalui bisnis yang diciptakan.
Terkesan naif. Tetapi penulis meyakini. Ladang perjuangan bagi seorang aktivis itu sangat luas. Ibarat lautan di samudera yang begitu besar. Jadi, ada banyak cara untuk berjuang membantu orang-orang sebagaimana cita-cita seluruh aktivis.
Ada yang berjuang melalui jalur politik. Ada yang berjuang melalui jalur akademisi dan Pendidikan. Ada yang berjuang di jalur agama dan sosial. Intinya, dimanapun ladang perjuangannya, tujuan aktivis tetap satu yaitu memperjuangkan orang-orang yang “lemah” dan “ tertindas”.
Maka, Ketika seorang aktivis menjadi seorang pebisnis dan sukses maka ia tidak akan pernah lupa akarnya. Ia akan membantu sebanyak-banyaknya orang yang menjadi cita-cita perjuangannya saat menjadi aktivis. Kekayaannya akan ia putar dan distribusikan lagi kepada mereka yang membutuhkan. Jadi, bukan membangun kerajaan tetapi menciptakan istana bagi mereka yang terpinggirkan oleh system.
Nilai tambah inilah yang lahir dari seorang aktivis saat mereka berbisnis. Mereka tetap membawa misi idealisnya ke dalam kehidupan bisnis apapun jenis bisnis yang sedang ia geluti.
Ketika seorang aktivis terjun ke bisnis, lalu sukses. diotaknya tidak hanya membangun pundi-pundi uang semata tetapi lebih daripada itu yaitu meyakini lalu mengkonkretkan “Habbluminnallah dan Habbluminnannas” sebagaimana cita-cita selama menjadi aktivis.
Oleh : Rudy Gani
