Exposebanten.com | TANGERANG — Di tengah tren sekolah modern yang mulai beralih ke gadget dan e-book, sebuah SMP Negeri Satu Atap (Satap) di Pekon Pesanguan, Kecamatan Pematang Sawa, Kabupaten Tanggamus, Lampung justru harus berjuang keras karena kekurangan buku cetak fisik untuk belajar sehari-hari.
Sekolah yang berdiri kokoh di atas pegunungan dengan akses jalan tanah ini sangat membutuhkan perhatian pemerintah agar kegiatan belajar mengajar tidak terhambat.
Kepala Sekolah SMPN Satap Pematang Sawa, Murjono, S.E., menyampaikan bahwa pemenuhan buku kitab mata pelajaran untuk siswa masih jauh dari kata cukup.
Di tengah keterbatasan fasilitas penunjang tersebut, pihak sekolah berharap dinas terkait bisa segera turun tangan memberikan bantuan operasional buku.
“Harapannya pemerintah terkait bisa turun tangan untuk membantu kekurangan buku kitab mata pelajaran ini,” ujar Murjono.
Kondisi ini memaksa para guru memutar otak saat mengajar di kelas. Salah seorang guru yang enggan disebutkan namanya menceritakan tantangannya yang harus membagi satu buku untuk beberapa siswa sekaligus karena jumlahnya yang tidak memadai.
“Saat saya mengajar, siswa di kelas harus cari cara agar materi pelajaran tidak ada yang tertinggal. Walaupun bukunya kurang, kami berkomitmen agar pembelajaran tidak terhambat dan tetap berjalan normal seperti sekolah lain,” ungkap guru tersebut.
Kontrasnya Realitas Pendidikan Modern
Kondisi di pelosok Tanggamus ini berbanding terbalik dengan perkembangan dunia pendidikan saat ini yang serba digital.
Di kota-kota besar, fungsi buku fisik mulai digantikan oleh tablet, notebook, atau ponsel pintar berkat popularitas electronic book (e-book) yang dinilai lebih praktis dan ringan bagi siswa maupun guru.
Namun, bagi siswa di pegunungan Pekon Pesanguan, jangankan bicara soal e-book dan teknologi mutakhir, pemenuhan hak mendasar berupa buku paket cetak pun hingga Kamis (24/9/2026) masih menjadi barang mewah yang harus mereka tunggu kehadirannya. (Romi/Red)

