Foto ilustrasi
Exposebanten.com – Setiap kesempatan ibadah yang terlewat dalam hidup ternyata akan tercatat secara permanen dan tidak dapat digantikan, yang pada akhirnya turut menentukan tinggi rendahnya derajat seorang hamba di surga kelak.
Hal ini menjadi salah satu pelajaran penting terkait tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) yang mengingatkan umat Muslim untuk tidak menyepelekan satu pun peluang amal saleh, sekecil apa pun itu.
Meskipun Allah SWT dengan Maha Luas-Nya selalu menerima taubat dari dosa yang menumpuk bertahun-tahun selama manusia masih hidup dan tulus kembali kepada-Nya, aturan berbeda berlaku untuk amal saleh.
Sekali waktu ibadah terlewat, seperti tidak mengerjakan salat dhuha atau ibadah sunah lainnya, momen emas tersebut hilang selamanya dan menyisakan catatan kosong atau tertinggal dalam buku amal yang tidak bisa diputar kembali.
Pentingnya menjaga konsistensi dan tidak menunda ibadah ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah An-Nūr: 56, di mana Allah SWT berfirman:
“Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul (Nabi Muhammad) agar kamu dirahmati.”
Selain perintah tersebut, kunci utama dari kesempurnaan amal terletak pada keistiqamahannya, bukan sekadar jumlahnya yang besar tetapi dilakukan secara musiman.
Dalam sebuah hadis riwayat Muslim (No. 783), Ummul Mukminin ’Aisyah radhiyallahu ’anha menyampaikan sabda Rasulullah SAW.
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu (istiqamah) walaupun itu sedikit.”
Prinsip tazkiyatun nafs ini membawa pesan mendalam agar setiap individu berhenti menunda-nunda berbuat baik.
Karena pada hakikatnya, setiap peluang ibadah yang datang hari ini bisa jadi merupakan kesempatan terakhir yang diberikan sebelum waktu di dunia habis. Allahu Ta‘ala a‘lam bishawab. (Abo)

