Exposebanten.com | INDRAMAYU — Ratusan kapal nelayan menumpuk di Pelabuhan Karangsong. Bukan karena cuaca buruk, tapi karena satu hal: harga BBM yang makin tak terjangkau.
Hari ini, aktivitas di TPI Karangsong nyaris lumpuh. Pelelangan ikan bahkan tidak bisa digelar. Para nelayan memilih bertahan di darat karena biaya melaut sudah di luar batas kemampuan.
Ketua Umum Gerakan Nelayan Pantura, Kajidin, menyebut harga Dexlite kini sudah tembus Rp 26 ribu per liter. Angka yang membuat banyak kapal tak berani berangkat.
Bayangkan saja, satu kapal besar (100 GT) butuh sekitar 100 ribu liter BBM. Artinya, sekali melaut bisa menghabiskan Rp 2,6 miliar hanya untuk bahan bakar. Sementara hasil tangkapan rata-rata hanya sekitar Rp 2,2 miliar.
Belum termasuk makan, logistik, dan biaya operasional lain. Ujung-ujungnya? Rugi.
βIni akan jadi mimpi buruk. Kapal yang masih melaut sekarang pun, saat kembali nanti kemungkinan besar tidak bisa berangkat lagi,β ujar Kajidin.
Data dari Koperasi Mina Sumitra menyebut, ada sekitar 600 kapal di Karangsong. Separuhnya menggunakan BBM non subsidi. Dan saat ini, lebih dari 100 kapal sudah berhenti melaut sejak setelah Lebaran.
Dampaknya bukan cuma ke nelayan, tapi juga ribuan ABK yang terancam kehilangan pekerjaan.
Ketua koperasi, Suwarto, menyebut satu kapal bisa mempekerjakan 15β17 orang. Bisa dibayangkan berapa banyak yang terdampak jika kondisi ini terus berlanjut.
Para nelayan pun sudah bersuara. Mereka mengirim surat terbuka ke Presiden Prabowo Subianto, juga ditembuskan ke Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dan Bupati Indramayu Lucky Hakim.
Harapan mereka jelas: ada kebijakan harga BBM khusus nelayan di kisaran Rp 11β12 ribu per liter, serta stabilitas harga ikan dan evaluasi aturan zonasi pelabuhan. Karena kalau tidak, bukan cuma kapal yang berhenti. Tapi juga roda ekonomi pesisir.
(Arrie tharina/Red)
