ExposeBanten.com | Tangerang – Suasana Musala SMA Daarussalam Badak Anom, Kecamatan Sindang Jaya, terasa berbeda dari biasanya pada Kamis (5/2/2026).
Tidak ada riuh rendah canda gurau, yang tampak justru wajah-wajah serius para siswa yang tengah khidmat mempelajari cara memandikan jenazah sesuai syariat Islam.
Kegiatan ini bukan sekadar pemenuhan nilai akademik, melainkan implementasi Kurikulum Merdeka yang menyentuh sisi spiritual dan sosial siswa.
Pihak sekolah ingin memastikan generasi muda tidak canggung saat harus menjalankan kewajiban fardhu kifayah di tengah masyarakat kelak.
“Memandikan jenazah itu bukan sekadar mengguyur air,” ujar Ahmad Saptani, S.Ag, guru pembimbing SMA Daarussalam.
Menurutnya, ada adab dan rasa hormat yang mendalam dalam setiap urutan prosesnya.
“Kita sedang berhadapan dengan amanah terakhir almarhum. Ada doa dan keikhlasan di sana. Inilah pendidikan karakter yang sesungguhnya,” tambahnya.
Kepala SMA Daarussalam, Drs. Tarmudi, S.Ag., M.M, yang memantau langsung kegiatan tersebut, menekankan pentingnya pengalaman langsung di tengah gempuran dunia digital.
Ia menilai keterampilan sosial seperti ini tidak bisa digantikan hanya dengan menonton tutorial di internet.
“Di era digital, semua bisa dicari di web, tapi pengalaman batin dan sentuhan empati hanya didapat lewat praktik langsung. Kami ingin membekali mereka dengan kepedulian sosial dan tanggung jawab moral sebelum mereka benar-benar terjun ke masyarakat,” jelas Tarmudi.
Melalui praktik ini, SMA Daarussalam Badak Anom berupaya menyeimbangkan aspek kognitif dengan kematangan afektif dan psikomotorik, menjadikan syariat Islam sebagai bekal hidup yang nyata bagi para siswanya. (Abo)
