Ilustrasi anak korban pelecehan seksual
Exposebanten.com | INDRAMAYU – Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum guru ekstrakurikuler di Kabupaten Indramayu memasuki babak baru yang mencengangkan.
Hingga Sabtu (25/4/2026), jumlah korban yang terdata sementara melonjak hingga 22 orang, terdiri dari 19 siswa dan 3 siswi tingkat SMP.
Anggota Komisi 2 DPRD Indramayu, Edi Fauzi, mensinyalir jumlah tersebut hanyalah “fenomena gunung es”.
Ia menduga kuat masih banyak korban lain yang belum berani bersuara karena adanya tekanan luar biasa.
“Awalnya belasan, tapi dari hasil komunikasi bisa jadi puluhan atau lebih,” ungkap Edi usai mendatangi langsung rumah salah satu korban di Kecamatan Anjatan, Jumat (24/4).
Edi membeberkan fakta mengejutkan terkait adanya upaya untuk menutupi kasus ini. Selain rasa takut, para korban diduga mendapat intimidasi agar tidak memberikan kesaksian kepada pihak berwenang.
“Ada upaya intimidasi supaya korban tidak mau jadi saksi. Kami di sini hadir untuk memberi dukungan moral agar mereka berani bicara. Kasus ini akan terus kami kawal hingga tuntas,” tegas politisi tersebut.
Pihak kepolisian bergerak cepat merespons laporan yang masuk dari dua wilayah terdampak, yakni Kecamatan Anjatan dan Haurgeulis.
Kasat Reskrim Polres Indramayu, Muchammad Arwin Bachar, mengonfirmasi bahwa saat ini sudah ada dua orang yang teridentifikasi sebagai terduga pelaku.
“Satu orang sudah berhasil kami tangkap, sementara satu orang lainnya masih buron dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Saat ini pelakunya sedang kita lakukan pengejaran,” jelas Arwin.
Kondisi psikis para korban kini menjadi prioritas utama. Mengingat status mereka yang masih di bawah umur, para korban dilaporkan mengalami trauma mendalam dan sangat membutuhkan pendampingan profesional.
Pemerintah Daerah Indramayu kini didesak untuk segera turun tangan melakukan langkah pemulihan (trauma healing) serta mengevaluasi sistem pengawasan di lingkungan sekolah agar tragedi serupa tidak kembali terulang di masa depan. ***
