Exposebanten.com | SERANG – Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia menjadi panggung refleksi mendalam bagi tokoh pejuang relawan Banten, H. Moch. Soleh, MA. Di tengah perayaan kemerdekaan tahun 2026 ini, ia menyoroti pentingnya perubahan tata kelola bangsa melalui kacamata teologis, sekaligus menegaskan kembali rekam jejak gerakan kerelawanan yang murni bergerak secara mandiri tanpa sokongan dana pihak luar.
Catatan perjuangan ini bertepatan dengan momen sakral dua dekade berdirinya Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Frent Banten Bersatu (FBB) di Provinsi Banten.
Sejak dideklarasikan pada 10 September 2006, FBB kini genap berusia 20 tahun dan terus konsisten mengawal dinamika sosial-politik di tanah jawara.
Dalam refleksinya, Moch. Soleh menekankan bahwa perjalanan bangsa Indonesia tidak lepas dari berbagai ujian dan musibah. Namun, alih-alih dipandang negatif, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai setiap ujian sebagai bentuk teguran teologis untuk muhasabah (evaluasi diri) massal.
“Ujian dan musibah harus menjadi sarana evaluasi diri untuk memperkuat solidaritas sosial. Momentum kemerdekaan ke-81 ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki tata kelola kehidupan berbangsa dan meningkatkan kepedulian antarsesama melalui penguatan gotong royong,” ujar Moch. Soleh dalam catatan refleksinya.
Selain refleksi moral, catatan sejarah perjuangan politik lokal juga menjadi sorotan utama. FBB mencatatkan tinta emas dalam konstelasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 lalu. Di bawah komando Moch. Soleh, tiga organ relawan besar di Banten berhasil digerakkan secara simultan demi memenangkan pasangan nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Ketiga organ tersebut meliputi Ormas FBB sendiri, jaringan Bolonemase Banten yang bergerak di bawah arahan Kuat Hermawan Santoso dan Mas Wali, serta organ Pas-Gibran Banten di bawah komando Jenderal Ben dan Kolonel Wiewieka.
Keunikan utama dari gerakan ini terletak pada kemandirian finansialnya. Seluruh pergerakan taktis untuk memenangkan pasangan Prabowo-Gibran di Banten kala itu diklaim murni lahir dari swadaya dan militansi para relawan, tanpa menyentuh bantuan biaya dari pihak luar mana pun.
Melalui catatan refleksi ini, Moch. Soleh berharap nilai gotong royong, kemandirian bergerak, dan ketajaman spiritualitas dalam berbangsa dapat terus dijaga demi menyongsong masa depan Indonesia yang lebih kokoh. (Abo)

