Exposebanten.com | TANGERANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang menyalurkan dana hibah sebesar 40.000 dolar AS atau ekitar Rp750 juta kepada 12 kelompok pemuda inovatif untuk mendukung perbaikan tata kelola iklim dan lingkungan lokal.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang, Erwin Mawandy, mengungkapkan, langkah strategis ini menempatkan Kabupaten Tangerang sebagai satu dari hanya tiga wilayah di Indonesia, bersama Provinsi DKI Jakarta dan Kabupaten Minahasa Utara yang terpilih masuk dalam jaringan 250 partisipan global program bergengsi Youth Climate Action Fund (YCAF) rancangan Bloomberg Philanthropies.
Erwin, menegaskan bahwa fokus utama agenda ini adalah akselerasi ide-ide segar generasi muda. Kucuran dana segar tersebut disaring ketat dari total 40 kelompok pendaftar yang bersaing menyodorkan solusi iklim terbaik.
“Agenda utama kegiatan ini adalah penyaluran dana hibah kepada kelompok anak muda yang memiliki inovasi untuk memperbaiki tata kelola iklim di Kabupaten Tangerang. Adapun penanaman bambu yang turut kami lakukan dalam rangkaian acara hanya menjadi kegiatan pelengkap,” ujar Erwin di Tangerang, Selasa (27/10/2026).
Erwin menjabarkan, spektrum gagasan yang diajukan para pemuda Tangerang ini sangat bervariasi dan menyentuh persoalan krusial. Mulai dari pengembangan aplikasi digital pemantau kualitas udara, pembuatan lubang biopori massal di wilayah rawan banjir dan kekeringan, hingga produksi massal cairan ekoenzim untuk memulihkan ekosistem air.
Salah satu potret nyata gerakan ini datang dari kelompok siswa SMP Negeri 7 Pasar Kemis yang sukses melaju sebagai penerima hibah. Didorong oleh rasa tidak nyaman akibat bau menyengat dari aliran Sungai Cilongok di dekat sekolah mereka, para siswa ini merumuskan inovasi bertajuk “Eco Cil” cairan ekoenzim berbahan dasar limbah organik.
Menariknya, para siswa memanfaatkan sisa sayur dan buah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mereka konsumsi di sekolah sehari-hari sebagai bahan baku utama.
“Setiap kali mendapatkan MBG, sisa limbah organik buah dan sayurnya langsung diproses untuk membuat ekoenzim tersebut,” ungkap Pembina Kelompok SMPN 7 Pasar Kemis, Parsih.
Proses pembuatan “Eco Cil” digarap secara presisi oleh para siswa. Ananda Cahaya Latifa, siswa kelas IX yang terlibat langsung, menjelaskan bahwa mereka menggunakan formula khusus dengan perbandingan satu bagian gula tebu (molase), tiga bagian limbah organik (seperti kulit jeruk dan semangka), serta 10 bagian air.
Bahan-bahan tersebut dipotong kecil, dibersihkan, dan difermentasi dalam wadah tertutup selama minimal 90 hari.
Cairan hasil fermentasi inilah yang nantinya akan dicampur dengan air untuk dialirkan langsung ke Sungai Cilongok.
Melalui suntikan dana hibah internasional ini, Pemkab Tangerang berharap aksi nyata skala sekolah seperti yang diinisiasi siswa Pasar Kemis dapat direplikasi secara masif demi mewujudkan wilayah yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim. (*)
“
