Exposebanten.com | TANGERANG — Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai mengepung kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten, sejak Sabtu 5 September 2026 malam.
Fenomena ini memicu kritik keras dari warga dan tokoh masyarakat setempat karena dinilai melumpuhkan aktivitas serta mengancam kesehatan masyarakat, bahkan di dalam rumah mereka sendiri.
Selain membuat mata perih dan mengganggu aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah, sebaran abu tebal ini kini telah masuk ke pemukiman dan mengorbankan kenyamanan warga saat beristirahat.
Abu Masuk Rumah, Warga Mulai Mengeluh Gatal-Gatal
Tegur Akbar Idham (33), warga Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, mengungkapkan bahwa abu vulkanik mulai terasa menebal sejak pukul 17.00 WIB. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para pengendara di jalan raya, tetapi juga sudah menembus lantai dan ruang dalam rumah.
“Dari jam lima sore mulai banyak debu. Saya bawa motor di jalan mata pada sakit kalau tidak pakai helm. Ke badan juga menempel debunya, membuat tidak nyaman. Bahkan di depan rumah saya sudah banyak debu yang menempel di lantai,” ujar Akbar kepada Exposebanten.com, Minggu (6/9).
Ia menambahkan, abu yang masuk ke dalam rumah memicu gatal-gatal hebat dan mengganggu waktu istirahat warga. Kondisi ini memaksa warga untuk menyapu rumah berkali-kali sejak pagi karena abu terus datang tanpa henti.
Pemerintah Daerah Didesak Ambil Langkah Konkret
Kondisi lapangan yang kian memprihatinkan ini memantik kritik tajam dari Akbar, yang juga aktif sebagai Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Banten.
Ia menilai pemerintah daerah masih “menutup mata” dan hanya memberikan respons normatif yang tidak menyelesaikan akar masalah di lingkungan pemukiman.
“Masa pemerintah hanya mengimbau agar masyarakat memakai masker bila keluar rumah? Dampak kepada rumahnya sendiri bagaimana? Debu tersebut mengakibatkan gatal-gatal, padahal rumah itu tempat beristirahat,” kritik Akbar dengan nada kecewa.
Akbar menegaskan bahwa keselamatan warga merupakan prioritas utama yang harus dijamin oleh negara.
Oleh karena itu, ia mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten untuk segera turun ke lapangan dan mengambil tindakan yang jauh lebih bijak. Warga terdampak saat ini membutuhkan solusi nyata dan bantuan penanganan dampak abu di lingkungan permukiman, bukan sekadar imbauan. (Abo)

