Foto Ilustrasi (Istimewa)
Exposebanten.com | TANGERANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan suhu udara di wilayah Kabupaten Tangerang berada di kisaran normal 24 hingga 34 derajat Celcius, namun potensi krisis air dan bencana ekologis tetap mengintai jika cuaca ekstrem terus berlanjut.
Menanggapi hal tersebut, penggiat kontrol sosial Hendra Primitif mendesak Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Tangerang dan seluruh elemen masyarakat untuk segera memperkuat sinergi mitigasi dini sebelum bencana benar-benar melanda.
Meskipun suhu harian 24-34 derajat Celcius merupakan hal yang biasa terjadi di dataran rendah dan perkotaan Indonesia, risiko besar tetap ada.
“Jika suhu ini terus bertahan di tengah puncak musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal, laju penguapan air akan meningkat tajam. Kondisi inilah yang menjadi pemicu utama potensi krisis air bersih di Kabupaten Tangerang,” ujar Hendra.
Ia menegaskan bahwa wilayah Kabupaten Tangerang saat ini sedang dihadapkan pada dua tantangan besar dari siklus cuaca ekstrem, yaitu:
- Musim kemarau: Memicu risiko kekeringan, kebakaran lahan, dan krisis air bersih.
- Musim penghujan: Berpotensi menimbulkan banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang.
“Semua itu perlu diantisipasi mulai sekarang. Lebih baik mencegah daripada menyesal ketika bencana datang,” kata Hendra.
4 Langkah Konkret untuk Forkopimda
Hendra berharap Forkopimda dapat bergerak cepat memimpin Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, TNI, Polri, hingga pemerintah tingkat kecamatan dan desa.
Empat langkah taktis yang harus segera dipastikan berjalan meliputi:
- Normalisasi sungai di titik-titik rawan genangan.
- Pembersihan saluran drainase agar berfungsi optimal.
- Pengecekan kesiapan alat evakuasi dan personel.
- Edukasi darurat kepada masyarakat secara berkala.
Pada akhir pernyataannya, Hendra menekankan bahwa menjaga keselamatan wilayah dari ancaman dampak perubahan musim bukan hanya bertumpu pada tugas pemerintah semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat. (Abo)

