Exposebanten.com | LEBAK – Masyarakat adat Baduy bersiap menggelar tradisi tahunan Seba Baduy 2026 yang dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai 23 hingga 26 April mendatang.
Ritual akbar ini merupakan puncak rasa syukur atas hasil panen sekaligus momen penting untuk mempererat hubungan antara masyarakat adat dengan pemerintah daerah.
Kepala Desa Kanekes sekaligus perwakilan adat Baduy, Jaro Oom, mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat masih menjalani rangkaian ritual suci sebelum menuju hari puncak.
“Saat ini masih proses ngalaksa, belum ada penutup adat. Nanti setelah beres, baru kita persiapan Seba Baduy,” ujar Jaro Oom, Kamis (16/4/2026).
Prosesi ngalaksa sendiri merupakan bagian tak terpisahkan dari rangkaian ritual setelah pelaksanaan Kawalu.
Sebagai informasi, Kawalu adalah tradisi tahunan warga Baduy Dalam yang dilakukan selama tiga bulan berturut-turut.
Setelah seluruh rangkaian pembersihan diri dan alam tersebut usai, barulah warga Baduy mematangkan persiapan menuju Seba.
Seba Baduy bukan sekadar perayaan biasa. Tradisi ini memiliki nilai strategis dan sakral.
Dalam pelaksanaannya, ribuan warga Baduy akan berjalan kaki menempuh puluhan kilometer dari pemukiman adat menuju pusat pemerintahan Kabupaten Lebak hingga ke Provinsi Banten.
Sambil berjalan kaki, mereka membawa hasil bumi terbaik sebagai simbol persembahan dan ungkapan terima kasih kepada pemerintah, yang mereka sapa dengan sebutan hangat “Bapak Gede” (Pemerintah Daerah).
Tradisi ini menjadi bukti nyata keharmonisan antara manusia, alam, dan pemerintah.
Melalui Seba, masyarakat Baduy menyampaikan pesan pelestarian alam sekaligus menjaga amanah leluhur untuk tetap menjalin silaturahmi dengan pemimpin daerah sebagai mitra dalam menjaga keseimbangan hidup di tanah Banten. (Abo)
