Exposebanten.com | SERANG – Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI) Banten mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan gaji minimal Rp5 juta per bulan bagi seluruh guru di Indonesia, Kamis (16/4/2026).
Gagasan yang awalnya dilempar oleh politisi Bonnie Triyana anggota Komisi X DPR RI ini dinilai bukan sekadar wacana, melainkan panggilan moral untuk memperbaiki wajah pendidikan nasional.
Ketua DPD GMNI Banten, Endang Kurnia, menegaskan bahwa langkah ini adalah solusi progresif untuk menghapus ketimpangan kesejahteraan yang selama ini menghantui guru, terutama para honorer.
Anggaran Realistis, Tergantung Niat Politik
Menurut Endang, hitungan anggaran sekitar Rp208 triliun per tahun untuk memenuhi standar gaji tersebut masih sangat realistis bagi negara.
Ia menekankan bahwa kendala utama saat ini bukanlah keterbatasan dana, melainkan arah keberpihakan politik anggaran pemerintah.
“Jika hitungan anggaran Rp208 triliun per tahun dinilai masih realistis, maka tidak ada alasan bagi negara untuk menunda. Ini bukan soal mampu atau tidak, tapi soal keberpihakan politik anggaran,” ujar Endang dalam keterangan resminya.
Lebih dari soal ekonomi, GMNI Banten memandang kesejahteraan guru sebagai investasi jangka panjang. Sebagai fondasi peradaban, guru tidak mungkin mencetak generasi unggul jika hidup dalam kekurangan.
GMNI juga mendorong pemerintah untuk membuka ruang diskusi lebih luas terkait angka yang lebih ideal, seperti usulan Once Mekel yang menyebut Rp15 juta sebagai standar martabat guru di masa depan.
Hal ini bertujuan agar profesi pendidik kembali diminati oleh generasi muda terbaik bangsa.
Hapus Status Honorer Eksploitatif
Di akhir pernyataannya, Endang mendesak pemerintah untuk hadir secara utuh dengan menghapus status honorer yang dinilai eksploitatif.
GMNI Banten berkomitmen akan terus mengawal isu ini sebagai bagian dari perjuangan ideologis menciptakan keadilan sosial.
“Negara harus memastikan penghasilan layak dan jaminan sosial bagi seluruh guru tanpa diskriminasi. Pendidikan adalah jantung pembangunan bangsa, dan guru adalah penjaga utama denyut nadi tersebut,” pungkasnya. ***
