ExposeBanten.com | Serang – Kawasan Pusat Perkantoran Pemerintah Provinsi Banten (KP3B) berubah menjadi panggung raksasa bagi kekayaan budaya Tanah Jawara pada Sabtu (7/2/2026).
Ribuan jurnalis dari seluruh penjuru Indonesia yang hadir dalam perhelatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 disambut dengan pemandangan tak biasa, mulai dari dentuman Rampak Bedug yang bertenaga hingga aksi magis Debus yang memukau.
Acara bertajuk Pentas Budaya dan Gelar UMKM ini sengaja dirancang bukan sekadar sebagai pelengkap seremonial, melainkan sebagai upaya strategis memperkenalkan identitas Banten ke kancah global melalui kekuatan publikasi media.
“Kami membawa seluruh budaya khas dari delapan kabupaten/kota ke sini. Harapannya, para tamu HPN tidak hanya pulang membawa berita, tapi juga membawa kesan mendalam tentang kuliner dan budaya kita,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Banten, Eli Susiyanti, di sela-sela acara.
Magnet Baduy di Tengah Modernisasi
Di tengah deretan stan modern, kehadiran warga Suku Baduy dari pedalaman Lebak menjadi magnet utama. Mereka membangun miniatur rumah bambu dan secara langsung mendemonstrasikan kemahiran menenun kain tradisional.
Kehadiran masyarakat adat ini seolah menjadi pengingat di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota tentang pentingnya menjaga akar tradisi.
Selain itu, pameran Golok Ciomas raksasa juga menjadi objek swafoto favorit para tamu undangan, menegaskan posisi Banten sebagai daerah dengan warisan seni kriya yang ikonik.
Dampak nyata dari perhelatan ini langsung dirasakan oleh 43 pelaku UMKM lokal yang menjajakan produk fesyen, kriya, hingga kuliner.
Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusumah, yang meninjau langsung area pameran, menegaskan bahwa event nasional harus menjadi jembatan bagi warga lokal untuk mengakses pasar yang lebih luas.
“Ini adalah momentum memutar roda ekonomi kerakyatan secara langsung. Sinergi antara kearifan lokal dan publikasi pers akan membuat pariwisata Banten naik kelas sekaligus mengisi dompet masyarakat,” tutur Dimyati.
Melalui perhelatan HPN 2026, Banten berupaya membuktikan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, dan media dapat menciptakan panggung ekonomi yang tidak hanya meriah secara citra, tetapi juga berdampak konkret bagi kesejahteraan warga lokal. (Abo)
