ExposeBanten.com | Indramayu – Bupati Indramayu, Lucky Hakim, memicu gelombang kemarahan publik setelah mengeluarkan pernyataan kontroversial yang menyebut banjir di wilayahnya hanyalah fenomena alam “air dari langit” yang tidak perlu disalahkan.

Pernyataan yang dinilai sebagai bentuk lepas tangan ini viral di media sosial dan memicu hujanan kritik pedas dari warga yang tengah terendam banjir dengan ketinggian hingga 50 cm.
Warganet menuding orang nomor satu di Indramayu tersebut tidak memiliki empati dan gagal total dalam melakukan mitigasi bencana. Ungkapan “air dari langit” bahkan dicap sebagai narasi yang tak berbobot dan menyerupai “omongan anak TK”.
Kritik Pedas dan Sindiran “Anak TK”
Gelombang protes meledak di berbagai platform digital. Akun Facebook Nang Sadewo, misalnya, mengunggah foto anak berseragam TK lengkap dengan tas sekolah sambil menuliskan sindiran: “Air dari langit, dari hulu, dari laut dan campur kecomberan. Tetap semangat sayangku.”
Senada dengan itu, akun Yusuf Pers menyindir bahwa meski pemimpinnya “hebat” karena tahu asal air hujan, warga justru bingung dengan solusi konkret yang ditawarkan.
“Apakah harus dipasang tenda? Angel, angel, bingung jadinya dengan jawaban bapak,” tulisnya pada Selasa (27/1/2026).
Pemda Dinilai Gagal Total
Kritik paling menohok datang dari Sekjen Forum Perjuangan Wartawan Indramayu (FPWI), yang akrab disapa Tomsus. Ia menegaskan bahwa banjir yang merendam wilayah Pasekan, Lohbener, hingga Patrol adalah bukti nyata buruknya perencanaan infrastruktur.
“Pemerintah Daerah gagal total dalam mitigasi bencana. Mereka hanya fokus pada pembangunan kosmetik di pusat kota dan memoles jalan di basis konstituen, tapi melupakan akar masalah seperti penyempitan saluran air,” tegas Tomsus melalui pernyataan resmi di Platform FPWI.
Tomsus juga menuntut audit transparan terhadap anggaran mitigasi banjir tahun lalu yang dianggap tidak berdampak. Ia meminta Bupati berhenti menjadikan cuaca sebagai kambing hitam.
Birokrasi Lambat dan Masalah “Eceng Gondok”
Selain masalah pernyataan, warga mengeluhkan kaku dan lambatnya respon birokrasi. Normalisasi saluran air dikabarkan terhambat oleh aturan administratif yang mengharuskan warga mengajukan proposal di tengah situasi darurat.
“Masa iya normalisasi harus buat proposal dulu? Lucu. Kalau begini, apa harus teriak dulu buat video agar didengar KDM (Gubernur Jabar)?” sindir Tomsus menirukan keluhan warga.
Masalah teknis lainnya yang disorot adalah tumpukan eceng gondok di aliran Sungai Cimanuk yang menyumbat arus air serta kondisi Sport Center Indramayu yang kian memprihatinkan.
Hingga berita ini diturunkan, publik mendesak langkah nyata dari Bupati Lucky Hakim daripada sekadar memberikan penjelasan teoretis mengenai siklus hidrologi.(Tuti Ragil/Red)
