ExposeBanten.com | Jakarta – Memasuki bulan suci Ramadhan, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengajak seluruh masyarakat untuk tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran dalam berinteraksi di dunia maya.
Ia menekankan pentingnya menjaga kesucian bulan puasa dengan menciptakan ruang digital yang lebih bersih dan menyejukkan.
Meutya mengingatkan bahwa di tengah derasnya arus informasi saat ini, Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk melakukan refleksi diri, termasuk dalam cara bermedia sosial.
Menurutnya, menjaga lisan kini juga berarti menjaga “jempol” dari aktivitas yang bisa melukai sesama.
“Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan diri di ruang digital. Tahan jempol dari komentar yang menyakiti, dan tahan emosi dari kabar yang belum tentu benar,” ujar Meutya dalam pesan humanisnya, Kamis (19/2/2026).
Lebih lanjut, Menteri Meutya mengajak publik untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia digital guna menjernihkan hati dan menata niat.
Ia berharap interaksi antarwarganet selama bulan suci ini didominasi oleh pesan-pesan positif dan saling menghargai.
“Mari jaga kesucian bulan puasa dengan interaksi yang baik. Jadikan diri kita sumber kebaikan,” tambahnya.
Menutup pesannya, Meutya berharap suasana Ramadhan tahun ini membawa perubahan nyata bagi kualitas ruang digital di Indonesia.
Dengan hati yang jernih, diharapkan jejak digital masyarakat pun menjadi lebih bermanfaat.
“Selamat menunaikan ibadah puasa, SobatKom. Mari sambut Ramadhan dengan hati yang jernih dan ruang digital yang lebih bersih,” pungkasnya. (Abo)
