Arsip foto: Saat Abraham Lincoln ditembak dari jarak dekat oleh John Wilkes Booth di Teater Ford, Washington, D.C. (14/4/1865)
Exposebanten.com — Sejarah mencatat peristiwa kelam 14 April 1865 sebagai hari pertama seorang Presiden Amerika Serikat (AS) tewas dibunuh dalam sebuah konspirasi besar.
Presiden ke-16 AS, Abraham Lincoln, ditembak dari jarak dekat oleh seorang aktor terkenal bernama John Wilkes Booth saat sedang menonton pertunjukan drama “Our American Cousin” di Teater Ford, Washington, D.C.
Lincoln mengembuskan napas terakhirnya keesokan hari, 15 April 1865, tepat ketika Perang Saudara Amerika hampir berakhir.
John Wilkes Booth, yang merupakan simpatisan fanatik pihak Konfederasi asal Maryland, menyusup ke kotak balkon kepresidenan.
Usai menembak bagian belakang kepala Lincoln, Booth melompat ke atas panggung teater dan berteriak, “Sic Semper Tyrannis!” (Demikianlah selalu kepada para tiran).
Booth menganggap Lincoln sebagai tiran yang menghancurkan cita-cita wilayah Selatan dan merenggut hak kepemilikan budak.
Ia sangat menentang Proklamasi Emansipasi serta Amandemen ke-13 yang menghapuskan perbudakan.
Pembunuhan ini ternyata bukan aksi tunggal, melainkan bagian dari plot besar. Booth dan kelompok konspiratornya berencana membunuh Presiden, Wakil Presiden, dan Menteri Luar Negeri secara serentak.
Tujuan mereka adalah melumpuhkan pemerintahan Union (Utara), memicu kepanikan, dan menyalakan kembali Perang Saudara agar sisa pasukan Konfederasi bisa berbalik menang.
Namun, rencana besar ini gagal total dalam mencapai tujuan politiknya.
Booth sendiri tewas ditembak mati oleh pasukan federal dua minggu kemudian karena menolak menyerah.
Meski hidupnya berakhir tragis, Lincoln menempati posisi tertinggi sebagai presiden terbaik AS menurut konsensus para sejarawan.
Ia dinilai sukses menyatukan kembali bangsa yang terpecah dan menghapus sistem perbudakan.
Lincoln juga abadi sebagai Bapak Demokrasi lewat kutipan legendarisnya dalam Pidato Gettysburg: “pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”.
Ironisnya, ketenangan Lincoln setelah wafat pun terus terusik. Antara tahun 1865 hingga 1901, jenazah Abraham Lincoln harus dipindahkan sebanyak 17 kali dan peti matinya dibuka sebanyak 5 kali.
Hal ini terjadi akibat renovasi makam yang berulang, ketakutan akan keamanan, hingga adanya plot perampok kuburan pada tahun 1876 yang berniat mencuri jenazah sang presiden demi uang tebusan.
Guna menghentikan gangguan tersebut, jenazah Lincoln akhirnya dimakamkan secara permanen di Pemakaman Oak Ridge, Springfield, Illinois, di dalam sangkar baja yang dilapisi semen tebal. ***

