Kondisi rumah Ibu Sati (63) warga Desa Talok Kecamatan Kresek saat ditinjau Bupati Tangerang (foto/istimewa)
ExposeBanten.com | Tangerang – Butuh sebuah musibah besar hingga rumah seorang janda tua rata dengan tanah untuk membuat para pejabat di Kabupaten Tangerang melangkahkan kaki ke Desa Talok Kecamatan Kresek, Pada Rabu (14/1/2026).
Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid akhirnya meninjau puing-puing kediaman Ibu Sati (63) yang ambruk diterjang hujan dan angin kencang dua hari sebelumnya.
Kehadiran Bupati yang memboyong rombongan lengkap, mulai dari anggota DPRD, Camat, hingga perangkat desa, seolah menjadi seremoni rutin di atas penderitaan warga.
Meski menjanjikan pembangunan ulang dengan standar rumah sehat, publik patut bertanya: mengapa harus menunggu roboh untuk memberikan hunian yang layak dan sehat bagi warga miskin.
Dalam kunjungannya, Maesyal Rasyid menekankan pentingnya gotong royong agar Ibu Sati tidak lagi “kehujanan”.
Namun, retorika tentang “penataan ventilasi dan sanitasi” yang baru digaungkan saat bangunan sudah hancur justru mempertegas lemahnya fungsi pengawasan dan program bedah rumah yang bersifat preventif di wilayah tersebut.
“Nanti rumahnya akan ditata supaya lebih sehat,” ujar Bupati, sebuah janji yang terdengar terlambat bagi janda tua yang harus kehilangan tempat tinggalnya terlebih dahulu.
Tak hanya soal bangunan, Bupati juga melempar tanggung jawab kesiapsiagaan kepada warga dan aparat bawah.
Ia mengimbau Camat hingga tingkat RT untuk kembali mengaktifkan kerja bakti dan menjaga kebersihan saluran air.
Imbauan yang terasa klise, mengingat banjir dan kerusakan akibat cuaca ekstrem adalah persoalan klasik yang seharusnya sudah memiliki solusi sistematis dari pemerintah daerah, bukan sekadar instruksi mendadak saat bencana sudah terjadi.
Meski Ibu Sati menyampaikan rasa terima kasihnya dengan penuh haru, kenyataan pahit tetap tak berubah.
Di tengah komitmen pemerintah yang diklaim “terus hadir”, seorang lansia masih harus mengalami trauma rumah roboh sebelum mendapatkan perhatian nyata dari penguasa daerah.
Kini, publik menunggu apakah pembangunan ulang ini akan berjalan cepat, atau hanya akan menjadi sekadar janji manis di depan kamera di tengah musim penghujan yang masih panjang. (AboSopian)
