ExposeBanten.com | Lebak – Universitas Terbuka (UT) kembali mempertegas komitmennya dalam meningkatkan literasi dan kapasitas mitigasi bencana masyarakat pesisir melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM).

Kegiatan tersebut. Dipimpin oleh Prof. Dr. Sardjijo, M.Si., program edukasi yang dilaksanakan di Bayah ini mengusung pendekatan inovatif berbasis cerita rakyat lokal untuk memperkuat budaya kesiapsiagaan di wilayah rawan tsunami.
Ketua PkM UT, Prof. Dr. Sardjijo, M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut melibatkan tim akademisi UT yang terdiri dari Hidayah, S.Pd., M.Pd.; Susi, S.S., M.Pd.; serta Dewi Maharani Rachmaningsih, S.Hum., M.A.
“Mereka merancang metode pembelajaran yang kontekstual, mudah dipahami, dan dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir Bayah, daerah yang memiliki tingkat kerentanan tsunami cukup tinggi,” ujar Prof. Sardjijo, Minggu (30/11/2025).
Cerita Rakyat Jadi Media Efektif Edukasi Mitigasi
Menurut Prof. Sardjijo, penggunaan cerita rakyat sebagai media pembelajaran kebencanaan menjadi pendekatan yang dinilai lebih efektif dibanding metode ceramah.
Cerita rakyat dinilai mampu Menguatkan daya ingat peserta, kata Prof Sardjijo, Menghubungkan tradisi lokal dengan ilmu kebencanaan modern, Membangun nilai empati, disiplin, gotong royong, dan tanggung jawab serta menyederhanakan pemahaman mengenai tanda-tanda alam dan langkah penyelamatan diri.
“Cerita rakyat merupakan sarana edukasi yang kaya makna. Bukan hanya warisan budaya, tetapi jendela pengetahuan yang dapat membangun ketangguhan masyarakat. Melalui pendekatan budaya, mitigasi menjadi lebih manusiawi dan bermakna,” tegasnya.
Peran GMLS Bayah dan Tokoh Lokal
Kesuksesan kegiatan ini turut diperkuat oleh kontribusi Anis Faisal Reza, S.E., tokoh masyarakat sekaligus pendiri Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS). Dalam kegiatan ini, Anis hadir sebagai narasumber utama dan menyampaikan materi mengenai strategi mitigasi berbasis komunitas.
“Kesiapsiagaan bukan hanya tentang peralatan atau simulasi, tetapi tentang membangun budaya sadar bencana melalui pengetahuan yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” ungkap Anis Faisal Reza.
Para peserta memberikan apresiasi atas dedikasi Anis yang dinilai menjadi motor penggerak semangat belajar siswa dan guru dalam memahami mitigasi bencana.
Selain itu, Badrul Munir, narasumber dari Cagar Budaya Lebak, turut memberikan kontribusi sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan kegiatan. Ia menyampaikan materi teknis seperti, tanda-tanda alam sebelum tsunami, pemahaman jalur evakuasi, penyusunan model pembelajaran mitigasi yang relevan dengan budaya lokal.
Kehadiran Badrul Munir menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan program PkM di Bayah.
Dukungan Penuh MTsN 2 Lebak
Kegiatan edukasi mitigasi tsunami ini terselenggara di MTsN 2 Lebak, dengan dukungan penuh dari Kepala Sekolah H. Baekandi, S.Ag., M.Pd. Pihak sekolah menyediakan fasilitas dan ruang kegiatan untuk mendukung kelancaran program.
“Partisipasi aktif siswa dan guru menunjukkan antusiasme tinggi terhadap penggunaan cerita rakyat sebagai media edukasi kebencanaan. Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana sekolah dapat menjadi pusat pembelajaran mitigasi berbasis komunitas,” ujar H. Baekandi. (AboSopian)
