Masjidil Haram (foto: Istimewa)
ExposeBanten.com | Arab Saudi – Kabar gembira bagi umat Islam di seluruh dunia yang merindukan kekhusyukan beribadah di Tanah Suci. Menjelang Ramadan 1447 H, Pemerintah Arab Saudi resmi memperbarui kebijakan penyelenggaraan umrah dengan mengedepankan kenyamanan dan keselamatan jamaah melalui teknologi pemantauan kepadatan berbasis barcode.
Kebijakan yang diumumkan pada pertengahan Februari 2026 ini bukan sekadar aturan birokrasi, melainkan langkah nyata untuk memastikan setiap tamu Allah dapat menjalankan tawaf dan sai dengan lebih lapang, tenang, dan aman dari risiko kerumunan berlebih.
Inti dari kebijakan baru ini adalah penerapan sistem pemantauan kepadatan secara real-time.
Melalui pemindaian barcode yang terintegrasi dengan layanan digital, jamaah kini bisa memantau tingkat keramaian di titik-titik utama sebelum memutuskan untuk berangkat menuju area ibadah.
“Sistem berbasis barcode ini memungkinkan pengunjung memantau tingkat kerumunan secara langsung, sehingga memudahkan dan membuat pelaksanaan ritual ibadah menjadi lebih nyaman,” ungkap otoritas General Authority for the Care of the Two Holy Mosques, sebagaimana dikutip dari Saudi Gazette, 21 Februari 2026.
Sistem ini dirancang sangat manusiawi dan mudah digunakan oleh siapa saja, termasuk jamaah lansia:
- Kategori Warna: Informasi kepadatan akan dibagi menjadi beberapa tingkat (misal: hijau untuk lengang, kuning untuk cukup padat, dan merah untuk sangat padat).
- Akses Fleksibel: Jamaah dapat menyesuaikan waktu ibadah mereka secara mandiri untuk menghindari titik-titik yang terlalu ramai.
- Panduan Multibahasa: Tersedia peta interaktif dan panduan dalam berbagai bahasa untuk membantu jamaah internasional.
Langkah ini merupakan bagian dari rencana operasional terpadu menyambut bulan suci Ramadan yang diprediksi akan mengalami lonjakan jumlah jamaah.
Selain teknologi barcode, Kementerian Kesehatan dan otoritas Dua Masjid Suci juga memperketat ketentuan kesehatan guna memastikan lingkungan ibadah tetap higienis dan aman bagi semua golongan.
Pemerintah Arab Saudi berharap, dengan adanya transparansi data kerumunan ini, tidak ada lagi jamaah yang terjebak dalam desak-desakan yang membahayakan.
Fokus utama tahun ini adalah mengalihkan beban kerumunan secara merata sehingga setiap individu mendapatkan ruang yang layak untuk berinteraksi dengan Sang Pencipta. (***)
