Exposebanten.com | LEBAK – Dinas Pertanian Kabupaten Lebak mengerahkan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan Petugas Penyuluh Lapang (PPL) untuk mendampingi petani dalam menangani dampak kekeringan akibat musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengatakan pendampingan dilakukan melalui pemantauan kondisi tanaman padi serta penanganan langsung di lapangan agar produktivitas pertanian tetap terjaga dan risiko gagal panen dapat ditekan.
“Kami menerjunkan petugas POPT dan PPL agar tanaman padi di areal persawahan yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang dapat diselamatkan sehingga tetap menghasilkan produksi pangan,” kata Rahmat di Lebak, Senin (27/7/2026).
Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Lebak hingga pertengahan Juli 2026, luas areal persawahan yang terdampak kekeringan mencapai sekitar 294 hektare dan tersebar di 16 kecamatan. Dari total tersebut, sekitar 14 hektare di antaranya berpotensi mengalami gagal panen apabila tidak segera ditangani.
Sebagai langkah mitigasi, Pemerintah Kabupaten Lebak berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Banten dan Kementerian Pertanian untuk mempercepat penanganan melalui sistem irigasi pompanisasi. Sistem tersebut memanfaatkan air permukaan dan air bawah tanah guna mengairi lahan yang mengalami kekeringan.
Rahmat menyampaikan, sebagian besar lahan terdampak kini mulai mendapatkan pasokan air sehingga diharapkan tanaman padi dapat kembali tumbuh optimal.
“Alhamdulillah, areal persawahan yang mengalami kekeringan kini sudah mulai teraliri air melalui sistem irigasi pompanisasi dengan memanfaatkan air permukaan dan air bawah tanah,” ujarnya.
Ia memperkirakan sebagian lahan akan memasuki masa panen pada Agustus 2026, sementara sisanya dipanen pada September 2026. Dinas Pertanian juga mengimbau petani agar segera melaporkan apabila menemukan sawah yang mulai mengalami kekeringan sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Sementara itu, Junaedi, petani asal Kecamatan Kalanganyar, mengaku terbantu dengan adanya pompanisasi. Menurutnya, sawah yang sebelumnya mengalami kekeringan kini kembali mendapatkan pasokan air sehingga tanaman padi dapat tumbuh lebih baik.
“Kami berharap hasil panen tetap baik setelah sawah kembali teraliri air melalui pompanisasi,” ujar Junaedi. (Ajat/Red)

