ExposeBanten.com | Tangerang — Wakil Bupati (Wabup) Tangerang, Intan Nurul Hikmah, membawa pesan menyentuh sekaligus tegas bagi para pelaku usaha di wilayahnya.
Ia mengingatkan bahwa tumpukan sampah bukan hanya persoalan teknis di hilir, melainkan utang moral yang harus dibayar sejak dari hulu oleh para produsen.
Hal tersebut ditegaskan Wabup Intan saat menghadiri peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) di Aula PT. Paragon Technology and Innovation, Rabu (25/02/26).
Dalam kesempatan itu, ia mendorong implementasi nyata Extended Producer Responsibility (EPR) sebuah konsep di mana pengusaha ikut bertanggung jawab langsung atas limbah produk yang mereka hasilkan.
“Kita tidak bisa lagi membiarkan beban sampah hanya ditanggung oleh pemerintah daerah dan masyarakat. Tanggung jawab kita harus mulai dari hulu,” ujar Intan.
Menurutnya, sesuai Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008, pengelolaan sampah yang sistematis adalah kewajiban hukum, terutama bagi pengembang kawasan perumahan dan industri.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Tangerang tidak akan tinggal diam dan bakal melakukan evaluasi berkala untuk memastikan regulasi ini bukan sekadar macan kertas.
“Kepatuhan terhadap regulasi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban demi masa depan lingkungan, kesehatan masyarakat, dan anak cucu kita nanti,” tambahnya.
Senada dengan itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang, Budi Khumaedi, menyebut bahwa dunia usaha memegang kunci strategis dalam menciptakan industri hijau.
Ia berharap sosialisasi ini menjadi titik balik bagi para pemangku kepentingan untuk memahami substansi regulasi dan menerapkannya secara konsisten.
“Semoga kolaborasi ini menjadi langkah awal menuju Kabupaten Tangerang yang bersih dan sehat. Mari kita jadikan HPSN sebagai momentum perubahan perilaku,” kata Budi.
Acara ini ditutup dengan momen simbolis penandatanganan komitmen bersama antara pemerintah dan pelaku usaha.
Langkah ini menjadi janji tertulis bahwa penanganan sampah di Kabupaten Tangerang kini memasuki babak baru yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan. (Abo)
