Exposebanten.com | CILEGON – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) menegaskan langkah strategisnya dalam mempercepat transformasi bisnis dan memperkuat operasional industri baja nasional melalui sinergi lintas lembaga negara.
Komitmen ini diperkuat melalui Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI bersama Danantara Asset Management dan Badan Pengaturan BUMN ke fasilitas produksi Krakatau Steel Group di Cilegon, Kamis (12/3/2026).
Kunjungan tersebut bertujuan meninjau langsung progres revitalisasi fasilitas produksi serta efektivitas penggunaan dana talangan dalam mendukung keberlanjutan operasional perusahaan sebagai tulang punggung industri baja domestik.
Dukungan Politik dan Perlindungan Pasar Domestik
Wakil Ketua DPR RI, Prof. Dr. Drs. H.A.M. Nurdin Halid, menyatakan bahwa pengawasan ini merupakan bentuk dukungan parlemen dalam mewujudkan kedaulatan industri strategis sesuai visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Ia mengapresiasi keberlanjutan restrukturisasi KRAS yang dinilai berhasil sepanjang tahun 2025 dan berlanjut di tahun 2026.
“Komisi VI DPR RI akan terus mengawal agar Perseroan semakin kuat. Kami juga secara tegas meminta pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, untuk tidak menerbitkan Persetujuan Teknis (Pertek) impor baja selama kebutuhan dalam negeri masih mampu dipenuhi oleh industri nasional,” tegas Nurdin Halid.
Optimasi Likuiditas dan Kapasitas Operasional
Dalam upaya memperkuat struktur keuangan, Badan Pengelola Investasi Danantara telah menyalurkan fasilitas Pinjaman Pemegang Saham (Shareholder Loan/SHL) senilai Rp4,93 triliun. Hingga minggu pertama Maret 2026, dana yang telah ditarik mencapai Rp4,367 triliun.
Direktur Utama PT Krakatau Steel, Dr. Akbar Djohan, merincikan bahwa sebesar Rp4,050 triliun dari dana tersebut dialokasikan untuk pengadaan bahan baku produksi sebanyak 477.000 ton.
Saat ini, sekitar 40 persen material telah tiba untuk mengamankan rantai produksi. Selain untuk operasional, dana tersebut juga mendukung program transformasi sumber daya manusia melalui skema Golden Handshake senilai Rp91 miliar.
Visi “Krakatau Steel Reborn”
Melalui inisiatif KS Reborn, Perseroan kini fokus pada penguatan tata kelola, transparansi, serta optimalisasi bisnis hilir dan infrastruktur.
Langkah ini diambil untuk meningkatkan daya saing global di tengah dinamika geopolitik yang menantang.
“Kolaborasi lintas lembaga ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem industri baja nasional yang lebih tangguh dan efisien,” ujar Dr. Akbar Djohan, yang juga menjabat sebagai Chairman IISIA.
Ia menambahkan bahwa transformasi ini krusial untuk membangun kembali kepercayaan pemangku kepentingan serta menarik investasi jangka panjang.
Dengan dukungan regulasi proteksi pasar dan penguatan modal, Krakatau Steel optimistis mampu mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar sekaligus motor penggerak infrastruktur nasional. (Abo)
