Exposebanten.com | LEBAK – Ruang sidang kehormatan di Pendopo Kabupaten Lebak mendadak panas. Bukan karena isu kebijakan, melainkan akibat “serangan” personal yang dilontarkan Bupati Lebak, Hasbi Jayabaya, terhadap wakilnya sendiri, Amir Hamzah.
Suasana formal berubah tegang saat sang Wakil Bupati nyaris tak mampu membendung emosi di depan publik.
Insiden yang kini viral melalui unggahan milik akun X ini bermula ketika Bupati Hasbi mengeluarkan pernyataan terkait latar belakang masa lalu Amir Hamzah.
“Uyuhan mantan napi jadi wakil bupati geh bersyukur,” ujar Hasbi.
Kalimat yang bermakna “masih mending mantan narapidana bisa jadi wakil bupati, harusnya bersyukur” itu langsung memicu reaksi spontan dari Amir yang saat itu duduk di barisan kursi pimpinan.
Merasa harga dirinya diinjak di forum resmi, Amir Hamzah sempat berdiri dari tempat duduknya untuk melayangkan protes langsung.
Beruntung, aksi tersebut diredam oleh pihak-pihak di sekitar, termasuk sang istri yang berusaha menenangkan situasi.
Bukan Sekadar Masalah Intonasi
Bagi Amir, ucapan tersebut adalah pelanggaran etika yang fatal.
Ia menegaskan bahwa masalahnya bukan pada keras atau lembutnya nada bicara, melainkan substansi yang merendahkan martabat.
“Ini bukan soal intonasi. Ini soal isi pembicaraan yang merendahkan. Disampaikan di depan umum dan tidak ada kaitannya dengan pekerjaan,” tegas Amir.
Mirisnya, Amir mengungkapkan bahwa perlakuan tidak menyenangkan ini bukan kali pertama ia alami.
Ia menyebut komunikasi di internal pemerintahan memang sedang “sakit”. Menurutnya, koordinasi dengan Bupati kerap buntu, dan bahasa-bahasa tidak layak sering muncul bahkan dalam rapat dinas resmi.
Suara Netizen: Antara Fakta dan Etika
Video ketegangan ini pun menjadi sasaran empuk komentar netizen. Akun @adhy.rahadhyan berkomentar pendek, “Fakta kok ngambek pak kumaha atuh,” sementara akun @christterlangga justru menyentil standar rekrutmen pejabat, “pekerjaan seperti ini gak pake SKCK aja standarnya udah aneh.”
Komentar-komentar ini mencerminkan belahnya opini publik antara melihat rekam jejak masa lalu atau menuntut etika komunikasi dari seorang pemimpin.
Meski merasa terluka, Amir Hamzah menyatakan masih akan terus bekerja demi kepentingan masyarakat Lebak.
Ia belum memberikan jawaban pasti terkait isu pengunduran diri, mengingat masa jabatannya yang baru berjalan satu tahun.
“Nanti kita lihat situasi. Kita ini pejabat, ada etika, ada tata krama. Jangan sampai ucapan justru melukai dan merusak suasana,” tandasnya. ***
