Exposebanten.com | TANGERANG – Di batas cakrawala yang memisahkan Kabupaten Tangerang dan Serang Provinsi Banten, sebuah oase spiritual dan alam tetap tegak berdiri menantang zaman.
Hutan Kramat Solear, destinasi wisata yang memadukan kesakralan religi dengan keasrian alam, hingga kini masih menjadi magnet utama bagi ribuan peziarah dan pelancong yang mencari ketenangan sekaligus keunikan legenda lokal.
Diatas lahan wakaf seluas 4,5 hektar, pengunjung tidak hanya datang untuk memanjatkan doa di makam keramat Syekh Mas Mas’ad, ulama besar penyebar Islam dari Kesultanan Banten.
Fenomena ratusan kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang mendiami hutan lindung ini menjadi daya tarik tersendiri, menciptakan atmosfer yang menyerupai destinasi wisata monyet ternama di Bali.
Refleksi Perilaku dan Mitos Santri yang Terkutuk
Dibalik rimbunnya pepohonan, tersimpan mitos yang mengakar kuat di tengah masyarakat.
Konon, kawanan kera ini adalah penjelmaan dari para santri atau pengikut Syekh Mas Mas’ad yang terkena kutukan.
Masyarakat setempat percaya bahwa perilaku kera-kera ini merupakan cermin dari niat hati para pengunjung.
“Ada keyakinan bahwa kera di sini merefleksikan sifat peziarah. Jika datang dengan niat buruk atau pikiran kotor, kera-kera tersebut konon akan menunjukkan perilaku serupa di hadapan mereka,” tulis catatan legenda setempat.
Bahkan, terdapat pantangan unik di mana primata ini diyakini akan menolak pemberian makanan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal.
Potensi Ekonomi yang Menanti Sentuhan Profesional
Meski selalu ramai dikunjungi, terutama saat hari libur nasional dan Lebaran, potensi besar Kramat Solear dinilai masih perlu optimalisasi.
Aktivis Kabupaten Tangerang, Mohammad Ekoriadi, menekankan pentingnya keterlibatan serius dari pemerintah daerah untuk memoles destinasi ini menjadi kelas dunia.
“Obyek wisata Kramat Solear memiliki potensi luar biasa untuk mendatangkan wisatawan domestik hingga mancanegara,” ujar Ekoriadi.
“Jika Pemkab Tangerang atau Pemprov Banten serius menata kawasan ini secara profesional, dampaknya akan sangat besar bagi ekonomi warga sekitar,” tambahnya.
Ia pun membandingkan potensi ini dengan pengelolaan wisata serupa di Bali yang telah sukses mendunia.
Menjaga Kesakralan di Tengah Modernitas
Secara ilmiah, kawasan ini merupakan hutan lindung yang menjadi habitat alami bagi kera ekor panjang untuk berkembang biak.
Namun bagi para peziarah, menjaga sopan santun, tutur kata, dan kebersihan hati tetap menjadi syarat mutlak saat melintasi gerbang Kramat Solear.
Kini, tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga kesucian makam dan kelestarian hutan, sembari mentransformasikannya menjadi motor penggerak ekonomi kreatif yang modern bagi masyarakat Banten. ***
