Pascaserangan AS-Israel ke Iran (foto: Istimewa)
ExposeBante.com | Teheran – Eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas pascaserangan terhadap Iran memicu kekhawatiran serius terhadap keselamatan Warga Negara Indonesia (WNI).
Menanggapi situasi genting tersebut, Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) mengimbau seluruh pekerja migran dan WNI yang berada di Iran untuk segera melaporkan keberadaan mereka melalui aplikasi Safe Travel milik Kementerian Luar Negeri RI.
Sekretaris Jenderal SBMI, Juwarih, menegaskan bahwa langkah preventif ini sangat krusial agar negara dapat melakukan deteksi dini dan mempermudah koordinasi evakuasi jika situasi memburuk.
“Kami sarankan pekerja migran atau WNI kita di Iran segera mengunduh aplikasi Safe Travel dan menginformasikan keberadaannya kepada perwakilan kita di sana. Aplikasi ini sebenarnya sudah lama ada, hanya mungkin kurang tersosialisasi,” ujar Juwarih pada Minggu (1/3/2026).
Melalui fitur-fitur yang tersedia, pemerintah diharapkan dapat memantau titik koordinat WNI secara real-time, sehingga bantuan dalam kondisi darurat dapat disalurkan dengan lebih cepat dan tepat sasaran.
Eskalasi Konflik pasca-Gugurnya Pemimpin Tertinggi
Situasi di kawasan tersebut mencapai titik didih menyusul serangan rudal ke Teheran pada Sabtu (28/2/2026). Peristiwa tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang memicu kemarahan nasional.
Sebagai respons, pemerintah Iran telah menetapkan masa berkabung selama 40 hari dan melancarkan serangan balasan yang menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat serta wilayah Israel. Kondisi ini menempatkan warga sipil, termasuk warga asing, dalam risiko keamanan yang tinggi.
Potret WNI di Iran: Profesional dan Unprosedural
Meskipun secara resmi Indonesia tidak memiliki jalur penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Iran, fakta di lapangan menunjukkan adanya WNI yang menetap di sana.
Juwarih menjelaskan bahwa mayoritas dari mereka masuk secara unprosedural atau melalui skema transit.
- Pola Keberangkatan: WNI biasanya masuk ke negara Timur Tengah lain seperti Bahrain, Oman, atau Qatar terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Iran.
- Profil Pekerja: Sebagian besar merupakan tenaga profesional atau mahasiswa yang bekerja paruh waktu. Sangat jarang ditemukan WNI yang bekerja di sektor domestik (pekerja rumah tangga).
- Estimasi Jumlah: Jumlah WNI di Iran diprediksi relatif sedikit, salah satunya dipengaruhi oleh nilai tukar mata uang setempat yang lebih rendah dibandingkan Rupiah.
- Kondisi Terkini: Belum Ada Laporan Korban, hingga saat ini, SBMI terus melakukan pemantauan intensif melalui media sosial dan jaringan pemberitaan internasional.
Berdasarkan hasil pelacakan sementara, belum ditemukan adanya laporan mengenai WNI, khususnya yang berasal dari kantong migran.
Langkah mitigasi melalui aplikasi Safe Travel diharapkan menjadi jembatan pengaman bagi mereka yang masih berada di wilayah konflik agar tetap terhubung dengan perlindungan diplomatik Indonesia. (***)
