ExposeBanten.com | Tangerang – Jalan Syekh Nawawi Tanara bukan sekadar aspal penghubung antar-kecamatan. Jalur strategis di Kecamatan Gunung Kaler ini menyandang nama besar ulama sekaligus menjadi akses utama menuju kediaman tokoh bangsa, mantan Wakil Presiden RI KH. Ma’ruf Amin.
Namun sayang, saat matahari terbenam, martabat jalan ini seolah tenggelam dalam kegelapan yang mengancam nyawa, Minggu (1/2/2026).
Minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU) telah mengubah jalur sibuk Gunung Kaler–Kresek menjadi “jalur maut” bagi pengendara kendaraan bermotor roda dua.
Warga setempat menggambarkan perjalanan malam hari di lokasi tersebut bukan lagi soal kenyamanan, melainkan perjudian nasib.
“Kalau malam hari gelap sekali. Seperti mempertaruhkan nyawa kalau lewat sini,” keluh salah satu pengendara yang kerap melintas.
Ketakutan warga bukan tanpa alasan. Kegelapan pekat bukan hanya memperbesar risiko kecelakaan lalu lintas, tetapi juga membuka ruang bagi tindak kriminalitas.
Di titik Stadion Mini Gunung Kaler, warga bahkan harus berinisiatif menyalakan listrik darurat secara swadaya—sebuah tamparan bagi pemerintah yang seharusnya hadir menjamin fasilitas publik.
Alibi Klasik di Balik Padamnya Lampu
Pihak otoritas wilayah sebenarnya bukan tidak tahu. Camat Gunung Kaler, Udin, mengakui bahwa usulan perbaikan telah dilayangkan berkali-kali.
Namun, ia menyodorkan alasan klasik yang terus berulang: pencurian kabel instalasi.
“Kami sudah sering mengusulkan agar PJU bisa berfungsi, tapi kendalanya banyak kabel yang hilang sehingga koneksi terputus,” ujar Udin.
Ironisnya, meski masalah ini menyangkut keselamatan jiwa publik, respons dari tingkat pembuat kebijakan masih terkesan dingin.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Tangerang, Jaenudin, hingga kini belum memberikan rincian konkret terkait solusi permanen untuk mengatasi pemadaman maupun strategi pengamanan aset dari tangan-tangan jahil.
Urgensi Tindakan, Bukan Sekadar Usulan
Masyarakat menilai, alasan pencurian kabel seharusnya tidak menjadi pembenaran atas pembiaran kegelapan yang berlarut-larut.
Publik menuntut pemerintah daerah untuk:
- Melakukan audit total terhadap seluruh titik PJU yang mati.
- Menggunakan inovasi teknologi (seperti lampu tenaga surya atau pelindung instalasi yang lebih aman) untuk memitigasi pencurian kabel.
- Meningkatkan patroli dan pengamanan di sepanjang jalur strategis tersebut.
Kini, bola panas ada di tangan Dishub Kabupaten Tangerang. Apakah pemerintah akan terus membiarkan rakyatnya “meraba dalam gelap”, atau segera menghadirkan terang demi martabat dan keselamatan warga di tanah kelahiran sang ulama. (Abo)
