ExposeBanten.com | Tangerang – Ribuan warga Desa Cisereh, Kecamatan Tigaraksa, kini tidak hanya bertarung melawan luapan air, tetapi juga ancaman racun mematikan.
Banjir setinggi 40-70 cm yang merendam pemukiman sejak Jumat (23/1/2026) mendadak berubah menjadi lautan oli pekat yang diduga sengaja dibuang oleh perusahaan nakal di Kawasan Industri Olex.
Aktivis Kabupaten Tangerang, Asep Supriyatna, mengutuk keras tindakan keji ini. Menurutnya, tumpahan zat cair hitam tersebut murni merupakan kejahatan lingkungan yang memanfaatkan situasi bencana.
“Ini sudah keterlaluan! Oknum perusahaan sengaja memanfaatkan kepanikan banjir untuk membuang limbah oli. Ini pelanggaran telanjang di depan mata dan harus diseret ke ranah hukum,” tegas Asep kepada ExposeBanten.com dengan nada tinggi, Sabtu (24/1/2026).
Ancaman Nyawa di Balik Genangan
Hingga hari kedua, belum ada tindakan nyata untuk menetralisir polutan yang masuk ke ruang-ruang tamu warga. Asep memperingatkan bahwa kelompok rentan kini berada dalam bahaya besar.
“Anak-anak dan lansia yang menerjang banjir kini bertaruh nyawa. Ini bukan lagi soal air masuk rumah, tapi soal racun yang masuk ke ruang hidup warga,” tambahnya.
Baca Juga: Manfaatkan Banjir, PT SKL Diduga Sengaja Buang Limbah Oli ke Permukiman Warga Tigaraksa
Meski situasi kian mendesak, respons pemerintah daerah dinilai masih lambat.
Camat Tigaraksa, Cucu Abdurrosyied, mengaku baru akan meninjau lokasi pada Sabtu ini untuk menelusuri sumber pencemaran.
“Saya akan meninjau ke beberapa titik banjir, nanti ke lokasi,” ujar Cucu singkat saat dikonfirmasi.
Senada dengan Camat, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang, Sandi, menyatakan baru akan melakukan pengecekan awal setelah mendapatkan informasi dari awak media sejak sehari sebelumnya.
Kini, warga Desa Cisereh mendesak pemerintah tidak hanya datang untuk berfoto atau meninjau lokasi. Mereka menuntut solusi nyata: pembersihan total sisa oli dan tindakan tegas berupa penutupan atau sanksi pidana bagi perusahaan yang terbukti membuang limbah di tengah bencana.
Warga berharap tragedi lingkungan ini menjadi yang terakhir dan tidak menguap begitu saja tanpa ada tersangka yang bertanggung jawab di meja hijau. (AboSopian)
