
ExposeBanten.com | Lebak – Situasi masyarakat sipil dalam beberapa hari terakhir semakin menguat dengan adanya gelombang aksi unjuk rasa penolakan tunjangan DPR yang kemudian berujung pada tragedi meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online.
Peristiwa ini telah mengguncang hati publik sekaligus menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi provokasi yang bisa memecah belah persatuan masyarakat.
Ratu Nisya Yulianti, Wakil Bendahara Umum PB HMI sekaligus Aktivis Perempuan Banten, menyerukan agar pemuda dan seluruh elemen masyarakat tetap bersatu dalam menjaga stabilitas daerah.
Menurutnya, aksi menyuarakan aspirasi adalah hak konstitusional, namun harus dilakukan dengan cara yang bermartabat dan tidak terjebak dalam skenario provokatif yang justru merugikan rakyat.
“Tragedi Affan Kurniawan menjadi luka kolektif yang seharusnya menyadarkan kita semua bahwa perjuangan tidak boleh dikotori oleh provokasi maupun tindakan anarkis. Pemuda Banten harus berdiri sebagai garda depan untuk memastikan aspirasi tetap tersampaikan dengan damai dan beradab,” tegas Nisya dalam keterangannya.
Ia menambahkan bahwa Banten memiliki semboyan luhur “Iman Taqwa” yang seharusnya menjadi landasan moral dalam menghadapi gejolak sosial.
Dengan berpegang pada nilai iman dan takwa, pemuda dan masyarakat diharapkan mampu mengawal perubahan tanpa harus mengorbankan persatuan dan keamanan daerah.
“Saya mengajak seluruh pemuda Banten, aktivis, mahasiswa, dan masyarakat sipil untuk tidak terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah,” ucap Nisya.
Lanjutnya,” Mari kita rawat Banten sebagai tanah yang aman, damai, dan religius, sesuai semboyannya. Bersatu kita kuat, bercerai kita hancur,” pungkas Nisya.
Ratu Nisya juga menekankan bahwa solidaritas antar warga harus terus diperkuat agar tragedi serupa tidak terulang. Banten, menurutnya, hanya bisa berdiri teguh jika rakyatnya bersatu dalam ikatan moral, kepedulian sosial, dan semangat kebersamaan.
(Red)