H. Moch. Soleh, MA
Exposebanten.com | SERANG – Sebanyak lebih dari 200 pengusaha konstruksi skala kecil dan menengah di Banten yang nyaris gulung tikar akibat hantaman badai ekonomi kini bersiap bangkit.
Berada di bawah naungan jaringan Forum Komunikasi Nasional (FKN-08), para kontraktor lokal ini menyatakan kesiapan penuh untuk mengawal pembangunan nasional sekaligus memberikan dukungan nyata kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Langkah strategis ini mendapat respons positif dan dukungan penuh dari tiga kekuatan besar di Banten, yaitu Organisasi Kemasyarakatan Frent Banten Bersatu (Ormas FBB), PAS-GIBRAN Banten, dan BOLONEMASE Banten.
Mereka menyuarakan pentingnya pemberdayaan pengusaha rakyat dan pemerataan pembangunan agar roda ekonomi tidak hanya berputar di lingkaran bermodal besar.
Ketua Umum Ormas FBB sekaligus Ketua DPW PAS-GIBRAN Provinsi Banten dan Ketua Koordinator BOLONEMASE Banten, H. Moch Soleh, M.A., menegaskan bahwa konsolidasi yang dilakukan FKN-08 adalah langkah nyata untuk merangkul pihak yang lemah.
Menurut H. Soleh, ratusan kontraktor ini tidak sedang mengemis proyek, melainkan menuntut hak yang sama untuk berkontribusi bagi NKRI.
Namun, ia mengingatkan agar keterlibatan ini tetap berjalan di atas koridor profesionalisme, transparansi, dan hukum yang berlaku.
“Pemerintah perlu membuka ruang yang lebih luas bagi kontraktor kecil dan menengah. Dukungan kepada pemerintah harus diwujudkan dengan kerja nyata, bukan sekadar kata-kata,” ujar H. Soleh kepada Exposebanten.com, Selasa (25/8/2026).
Ia juga menyoroti agar desain kebijakan pengadaan barang dan jasa tidak menjegal pengusaha lokal sejak awal.
“Jangan sampai pengusaha kecil dan menengah gugur sebelum mendaftar karena persyaratan yang tidak ramah bagi mereka,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Ir. Yoserizal Nasution selaku Ketua Umum Gema Macan Asia melihat keterlibatan pengusaha lokal sebagai kunci utama ekonomi berbasis masyarakat.
Efek domino dari sektor konstruksi dinilai mampu menghidupkan banyak sektor lain di sekitarnya.
“Di balik pembangunan ada tenaga kerja, toko material, transportasi, hingga UMKM. Yang kita bangun bukan hanya proyek fisik, tetapi ekosistem ekonomi rakyat,” jelas Yoserizal yang juga menyambut baik sinergi para kontraktor dengan Paguyuban Berkah Merah Putih Indonesia.
Sementara itu, salah satu kontraktor asal Jawa Timur yang ikut bergabung, Fanji, menyatakan bahwa para pengusaha daerah hanya butuh kompetisi yang sehat.
“Kami tidak meminta perlakuan khusus. Yang kami minta adalah kesempatan yang adil, kepastian hukum, dan mekanisme kerja yang jelas,” tegasnya.
Di sisi lain, Indria Febriansyah, S.E., M.H., Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia (KSTI) sekaligus penggerak FKN-08, menekankan bahwa manifesto ini merupakan bukti konkret dukungan masyarakat terhadap Presiden Prabowo Subianto.Dukungan politik kini harus diubah menjadi aksi produktif di lapangan.
“Mereka ingin membuktikannya melalui kerja, pembangunan, penciptaan lapangan pekerjaan, dan perputaran ekonomi langsung di tengah masyarakat,” pungkas Indria.
Melalui konsolidasi ini, ratusan pengusaha lokal tersebut siap diterjunkan dalam berbagai program pembangunan strategis, mulai dari infrastruktur daerah, sekolah rakyat, kampung nelayan, hingga proyek Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Kunci keberhasilan program kemitraan ini nantinya akan sangat bergantung pada transparansi tata kelola dan kepastian hukum yang jelas antara pemerintah dan para pelaku usaha rakyat. (Abo)

