Exposebanten.com | TANGERANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) resmi menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) dan University Xiamen asal Tiongkok untuk menyulap kawasan Ketapang Urban Aquaculture menjadi pusat riset lingkungan internasional.
Kolaborasi global ini ditandai dengan peluncuran Stasiun Pengamatan Lapangan Mangrove Bersama Tiongkok-Indonesia di area seluas 14 hektare tersebut pada Sabtu (25/7/2026) kemarin.
Kepala Bappeda Kabupaten Tangerang, Erwin Mawandy, menjelaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah awal untuk mengukur manfaat ekologis dari pengembangan kawasan mangrove. IPB memiliki keahlian di sektor pesisir dan kelautan, sementara Universitas Xiamen Tiongkok memiliki kompetensi kuat di bidang riset dan penelitian.
“IPB menggandeng University Xiamen Tiongkok yang punya kompetensi kuat juga di bidang riset dan penelitian. Di tahap awal ini kita mencoba dari universitas dan IPB membawa alat untuk mengukur kualitas karbon yang dihasilkan dari hasil kerja keras pemerintah daerah dalam mengembangkan kawasan mangrove,” ujarnya.
Riset ini akan mengukur berbagai parameter lingkungan, termasuk kualitas udara, kualitas tanah, dan keanekaragaman hayati (biodiversitas) yang ada di kawasan mangrove. Proyek ini diproyeksikan berlangsung minimal 5 tahun untuk dapat melihat hasil yang signifikan.
“Kita bisa mengukur kualitas udaranya, kualitas tanahnya. Ini juga mengukur beragam keanekaragaman hayati atau biodata City yang ada di kawasan mangrove. Kita proyeksinya paling tidak 5 tahun. Karena untuk melakukan sebuah riset itu minimal di 5 tahun kita bisa lihat hasilnya seperti apa,” jelasnya.
Kemunculan “Binatang Mimi” sebagai Indikator Ekosistem Membaik
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tangerang, Soma Atmaja, yang mewakili Bupati menambahkan bahwa salah satu indikator nyata dari membaiknya ekosistem mangrove adalah kemunculan kembali “binatang mimi” (sejenis kepiting tapal kuda) yang sudah lama tidak terlihat.
Fenomena ini, kata Soma, menunjukkan bahwa upaya konservasi mangrove mulai membuahkan hasil.
“Binatang ini kembali muncul. Dulu nggak pernah ada sebelum kita bangun ini, sekarang mereka muncul lagi. Sudah berapa tahun ini mereka muncul lagi. Artinya ekosistem kita makin membaik,” ujar Soma.
Meskipun riset ini baru pertama kali dilakukan secara internasional di Kabupaten Tangerang, pemerintah daerah optimis bahwa kerja sama ini akan memberikan hasil yang bermanfaat. Setelah 5 tahun, kolaborasi ini dapat dilanjutkan dengan universitas-universitas di luar negeri lainnya.
“Dengan kemampuan mereka dan kolaborasi yang baik, kita optimis. Kalau 5 tahun selesai nanti bisa kita lanjutkan bersama dengan pihak universitas di luar negeri,” pungkas Kepala Bappeda.
Kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk tidak hanya mengembangkan kawasan mangrove, tetapi juga mengukur dan memanfaatkan manfaatnya secara ilmiah, terutama dalam hal penyerapan karbon dan peningkatan kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Tangerang.
Kerja sama ini berfokus pada pengembangan Taman Konservasi Mangrove dan Keanekaragaman Hayati Indonesia, serta Budidaya Perikanan Perkotaan Ketapang, dengan tiga pilar utama: menyelamatkan hutan bakau, melindungi kepiting tapak kuda, dan memberdayakan masyarakat lokal. (Abo)

