Danil Rhamdani, Ketua Askab PSSI Kabupaten Tangerang (foto:ist)
Exposebanten.com | TANGERANG – Turnamen Piala Bupati Tangerang 2026 yang seharusnya menjadi panggung prestasi pesepak bola muda kini berubah menjadi sorotan tajam setelah dua pemain mengalami cedera patah tulang usai menghadapi tim yang sama, FIFA Farmel Academy.
Ironisnya, di tengah keprihatinan publik, Ketua Askab PSSI Kabupaten Tangerang, H. Danil Rhamdani, justru memantik kontroversi dengan menyebut isu tuntutan evaluasi tersebut sebagai “berita basi”.
Kedua korban cedera serius tersebut adalah Sandi, pemain dari BMS FC, dan Muhammad Alfidzar, penjaga gawang Bintang Kelapa Dua FC.
Respons kurang empatik dari Danil Rhamdani, yang juga menjabat sebagai Camat Pagedangan langsung memicu bantahan keras dari manajemen klub dan mengundang pertanyaan besar mengenai standar keselamatan pemain dalam turnamen tersebut.
“Sudah dijamin BPJS bang, sudah dirawat, orang tuanya juga sudah ditemui, kita rawat. Itu sudah 4 hari, yang kirim berita itu sudah basi,” ujar Danil saat dikonfirmasi mengenai desakan evaluasi dari klub peserta.
Pernyataan santai tersebut langsung disemprot oleh Manajemen BMS FC. Pihak klub menegaskan bahwa fasilitas BPJS Kesehatan yang digunakan oleh Sandi dibayar secara mandiri oleh pihak klub, bukan ditanggung oleh panitia pelaksana maupun Bupati Tangerang selaku penyelenggara.
“Kepesertaan BPJS itu klub yang bayar, bukan panitia atau bupati,” tegas perwakilan BMS FC.
BMS FC juga membongkar ketidakakuratan klaim Ketua Askab terkait penanganan korban.
Baca Juga: Dinodai Insiden Patah Tulang, Turnamen Sepak Bola Piala Bupati Tangerang 2026 Tuai Kritik
Baca Juga: Insiden Patah Tulang di Piala Bupati Tangerang U-13, BMS FC Layangkan Surat Terbuka untuk Askab PSSI
Berbeda dengan klaim Danil yang mengaku sudah menemui keluarga korban, BMS FC menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada satu pun perwakilan Askab PSSI Kabupaten Tangerang yang datang menjenguk atau menemui orang tua pemain.
Pihak klub juga memprotes pernyataan Danil yang menyebut kasus ini sudah berlalu empat hari dan basi.
Faktanya, insiden patah tulang yang menimpa Sandi terjadi pada 31 Mei 2026, yang berarti baru berselang hitungan hari ketika polemik ini mencuat ke publik.
Kekecewaan klub semakin memuncak ketika mereka berniat mengirimkan surat permohonan evaluasi resmi ke kantor Askab PSSI Kabupaten Tangerang.
Alih-alih disambut baik untuk pembenahan, kantor federasi sepak bola daerah tersebut justru ditemukan dalam kondisi terkunci rapat tanpa ada satu pun pengurus di dalamnya hingga pukul 12.00 WIB.
Bagi BMS FC, polemik ini bukan lagi sekadar perkara siapa yang menanggung biaya rumah sakit.
Hal krusial yang mendesak untuk diusut adalah kualitas kepemimpinan wasit, pengawasan pertandingan, dan perlindungan terhadap keselamatan atlet di lapangan.
Publik kini mempertanyakan mengapa dua klub berbeda bisa sama-sama kehilangan pemain akibat patah tulang setelah bertanding melawan tim yang sama.
Merespons kekacauan ini, Ketua KONI Kabupaten Tangerang, Eka Wibayu, angkat bicara dan berjanji akan mengintervensi masalah ini.
Pihaknya memastikan akan menampung seluruh keluhan klub dan orang tua korban untuk menjadi bahan evaluasi total.
“Terkait ketegasan wasit dan masukan dari orang tua atlet maupun klub, itu akan menjadi bahan evaluasi dan akan kami sampaikan kepada panitia pelaksana,” kata Eka.
Masyarakat dan pencinta sepak bola tidak membutuhkan perdebatan defensif mengenai apakah kasus ini “basi” atau tidak, melainkan langkah konkret dan investigasi nyata agar kompetisi lokal tidak menjadi kuburan bagi karier para pesepak bola muda. (Abo)

