Exposebanten.com | JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah 17 poin atau 0,10 persen ke level Rp17.685 pada Selasa pagi, turun dari penutupan sebelumnya di posisi Rp17.668.
Meski mengawali hari di zona merah, mata uang garuda diproyeksi berpotensi berbalik menguat sepanjang hari berkat sentimen global terkait penundaan aksi militer Amerika Serikat (AS).
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelonggaran ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi motor utama penggerak mata uang.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan menunda rencana serangan terhadap Iran, yang seketika meredakan kekhawatiran pelaku pasar global.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah meredanya kekhawatiran pasar setelah Trump menunda serangan ke Iran,” kata Lukman, dikutip dari ANTARA di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Berdasarkan laporan Anadolu, keputusan Trump menunda serangan tersebut diambil setelah adanya masukan dari para pemimpin negara di kawasan Timur Tengah. Pemimpin dari Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA) meyakinkan Trump bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang sepenuhnya serta gencatan senjata dengan Iran sudah hampir tercapai.
Meski ada angin segar dari global, Lukman mengingatkan bahwa ruang penguatan rupiah hari ini cenderung terbatas.
Hal ini dipicu oleh masih lemahnya sentimen domestik serta sikap hati-hati para investor yang sedang mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI).
Pasar memproyeksikan Bank Indonesia akan mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan. Kebijakan ini dipicu oleh lonjakan imbal hasil (yield) obligasi AS yang menekan mata uang negara berkembang.
“Kenaikan suku bunga ini diharapkan bisa membuat rupiah kembali menarik bagi investor,” tambah Lukman.
Dengan dinamika sentimen global dan domestik tersebut, pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang hari ini diprediksi akan berfluktuasi secara terbatas pada kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS. ***
