Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (foto: ist)
Exposebanten.com | JAKARTA – Di tengah gegap gempita perayaan Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5/2026), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menebar janji manis.
Ia merilis lima kebijakan strategis, termasuk beasiswa untuk 150.000 guru dan kenaikan tunjangan sertifikasi yang ditransfer bulanan, demi “meningkatkan kesejahteraan guru”.

Namun, narasi megah di atas panggung di Banyuwangi itu berbanding terbalik dengan kenyataan pahit di pelosok negeri.
Ironi menyakitkan justru menggetarkan hati dari NTT. Di saat pusat bicara angka fantastis, Yustina Yuniarti, seorang guru honorer di SDK Wukur, Flores, Nusa Tenggara Timur, harus berjuang bertaruh nyawa.
Selama 11 tahun, ia berjalan kaki sejauh enam kilometer setiap hari melewati medan ekstrem, jalan berbatu, bukit, hutan, hingga pinggiran jurang, demi mencerdaskan anak bangsa.
Fakta lebih mengiris hati terungkap, Yustina hanya digaji Rp150 ribu per bulan. Angka ini didapat dari iuran komite sekolah, bukan dana BOS. Bahkan, saat awal mengajar, ia hanya dibayar Rp15 ribu per bulan.
“Banyak orang tidak mau mengajar di daerah terpencil seperti ini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan,” ujar Yustina, Sabtu (2/5/2026), dikutip dari TribunFlores.com.
Kontras: Kebijakan vs Realitas Terpencil
Sementara Menteri Mu’ti menjanjikan perbaikan kesejahteraan dan pelatihan “coding serta artificial intelligence” bagi para guru di tahun 2026, Yustina, yang mengabdi di sekolah dengan 34 siswa dan 7 guru honorer dari total 8 pendidik, justru mendambakan hal mendasar: perhatian nyata bagi guru honorer di wilayah terpencil.
Yustina berharap pemerintah, termasuk Presiden Prabowo Subianto, mendengar jeritan mereka dan membantu perumahan guru.
Kisah Yustina menjadi tamparan keras bahwa kebijakan setingkat kementerian seringkali berjarak jauh dari realitas guru honorer di garda terdepan pendidikan, yang masih berjuang demi kelayakan hidup, bukan sekadar pelatihan teknologi. ***
