ExposeBanten.com | Tangerang – Ibarat pepatah “tetangga kelaparan, kita malah pesta pora”, itulah potret nyata yang tertangkap di depan mata masyarakat Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang saat ini, Selasa (17/2/2026).
Di saat kantor kecamatan sibuk bersolek dengan renovasi di sana-sini, ada seorang warga bernama Nenek Mursani (75) yang harus bertaruh nyawa di bawah atap rumah yang hanya disangga bambu seadanya.

Pantauan di lokasi pada Senin (16/2), Gedung Kantor Kecamatan Tigaraksa tampak gagah berdiri. Bukan cuma kokoh, gedung tempat para pejabat bernaung ini malah sedang dipoles lagi.
Material bangunan dan alat proyek terpampang nyata di depan kantor, menandakan proyek renovasi sedang berjalan manis.
Pemandangan ini bak bumi dan langit jika dibandingkan dengan gubuk Nenek Mursani. Lansia tersebut harus rela tidur was-was setiap malam, khawatir rumahnya bakal ambruk menimpa dirinya dan sang cucu.
Baca Juga: APBD Apa Reward, Proyek Depan Kantor Kecamatan Tigaraksa Jadi Teka-Teki
Kondisi jomplang ini bikin gerah aktivis Kabupaten Tangerang, Alamsyah. Dengan nada bicara yang lugas tapi ngena, ia menyebut fenomena ini sebagai ironi yang menusuk nurani.
“Jangan sampai gedung Kecamatan terlihat cantik, tapi empati pejabatnya justru keropos. Sementara nenek Mursani dan cucunya tidur dengan risiko rumah roboh, pemimpin mereka justru sibuk menghias gedung kantor,” sentil Alamsyah pedas.
Ia mengingatkan Camat Tigaraksa, Cucu Abdurrosyied, untuk lebih “peka” dengan kondisi warganya sendiri.
Menurut Alamsyah, nggak keren kalau seorang pemimpin lebih mementingkan tampilan kantor yang sudah berdiri tegak, ketimbang menyelamatkan nyawa warga yang butuh bedah rumah darurat.
Sejauh ini, pihak Pemerintah Kecamatan Tigaraksa sepertinya masih enggan memberikan panggung klarifikasi.
Tim media sudah mencoba menghubungi Camat Cucu Abdurrosyied untuk menanyakan kenapa renovasi kantor lebih mendesak daripada nyawa warga, namun hingga berita ini tayang, yang bersangkutan belum memberikan respons.
Masyarakat kini hanya bisa berharap, semoga hati nurani para pejabat di Tigaraksa nggak sekeras semen dan beton bangunan kantornya sendiri. (Abo)
