ExposeBanten.com | Lebak – Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Lebak mencatat penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga 19 November 2025 telah menembus angka 100.000 orang per hari.
Capaian ini menunjukkan antusiasme tinggi dan keberhasilan implementasi program pemenuhan gizi bagi pelajar di daerah tersebut.
Koordinator BGN Wilayah Kabupaten Lebak, Asep Royani, mengatakan Program MBG berjalan lancar dan memberikan dampak signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan gizi anak sekolah.
“Kami mengapresiasi Program MBG berjalan lancar untuk pemenuhan gizi anak, mulai jenjang SD/MI, SMP/Mts, hingga SMA/SMK/MA,” ujarnya di Rangkasbitung, Kamis (20/11/2025).
Menurut Asep, keberhasilan program ini tak lepas dari kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang saat ini telah beroperasi sebanyak 48 unit di seluruh Kabupaten Lebak. Setiap unit dapur mampu melayani ribuan porsi makanan sehat dan memenuhi standar gizi harian pelajar.
“Selama ini dapur SPPG yang sudah beroperasi di Lebak sebanyak 48 unit dan melayani Program MBG sebanyak 100.000 orang per hari,” katanya.
Ia menambahkan jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah seiring peningkatan kapasitas layanan.
Perkembangan SPPG menunjukkan tren signifikan, terutama dalam menyediakan makanan berkualitas bagi peserta didik. BGN menargetkan jumlah penerima manfaat dapat melampaui 100.000 orang hingga akhir 2025.
“Perkembangan SPPG di daerah ini terus bertambah, dan kami menargetkan hingga akhir 2025 angka penerima manfaat bisa di atas 100.000 orang,” ujarnya.
Target tersebut dinilai realistis berkat dukungan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat. Keberadaan Program MBG, lanjut Asep, tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga memberikan efek ganda terhadap ekonomi lokal. Pasokan bahan pangan yang digunakan seluruhnya berasal dari petani dan UMKM di Lebak.
“Program MBG ini menjadi penggerak ekonomi lokal dan menggerakkan rantai suplai pangan, mulai dari petani, UMKM, hingga SPPG,” ucapnya.
Ia menegaskan manfaat program ini mengalir luas tidak hanya bagi pelajar, tetapi juga bagi pelaku ekonomi lokal. Asep memperkirakan ribuan tenaga kerja terserap melalui operasional 48 dapur SPPG.
“Kami meyakini penyerapan tenaga kerja dari 48 unit SPPG itu mencapai ribuan orang,” katanya menambahkan.
Menurutnya, sistem penyaluran makanan dilakukan lebih awal setiap harinya untuk memastikan kualitas hidangan tetap terjaga. Efisiensi waktu pengolahan dan distribusi juga menjadi faktor penting keberhasilan program ini.
Sementara itu, para siswa penerima manfaat MBG turut merasakan dampak positif program tersebut. Sejumlah siswa mengaku lebih bersemangat mengikuti kegiatan belajar karena kebutuhan gizi mereka terpenuhi.
Anjani, siswi SDN 3 Muara Ciujung Timur, Kecamatan Cibadak, mengatakan dirinya merasa sangat terbantu melalui program ini.
“Kami merasa bahagia dan senang menerima makanan MBG sesuai selera dan tidak perlu makan lagi di rumah,” ujarnya.
Ia menambahkan menerima makanan sehat setiap hari membuatnya bisa menghemat uang jajan dan lebih fokus belajar. Program MBG diharapkan terus berlanjut agar semakin banyak pelajar mendapatkan akses pangan bergizi secara merata. (red)
