ExposeBanten.com | Lebak – Menyoroti tantangan perkembangan digital di jaman modern yang kini dihadapi masyarakat, terutama generasi muda.
Akan tetapi sangat berbeda dengan Kabupaten Lebak Banten, di jaman sekarang, masih banyak masyarakat ketidakmampuan untuk membaca dan menulis (Buta aksara), ini membatasi seseorang dalam mengakses pengetahuan.
Angka buta aksara di Kabupaten Lebak masih tergolong tinggi, yakni mencapai 2,28 persen dari total populasi penduduk sebanyak 1,5 juta jiwa.
Kondisi ini menjadi perhatian serius aktivis pemerhati, Asep Supriatna dan juga Ketua Front Banten Bersatu (FBB) DPD Kabupaten Tangerang.
Asep menilai, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak sangatlah lamban dalam mengatasi Buta aksara di wilayah.
“Di jaman sekarang, semua serba digital tapi angka buta aksara masih tinggi seperti itu, “ujarnya, Rabu (12/11/2025).
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Lebak hanya bergerak dalam program-program Literasi tapi tidak bersentuhan langsung dengan masyarakatnya.
“Masyarakat tidak mengerti akan program, mereka lebih mengutamakan kerja nyata dan bukan seremonial semata, “tegas Asep.
Ia berharap Pemkab Lebak melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusar) bergerak langsung ke masyarakat agar bisa tau permasalahan.
“Langkah Dispusar Kabupaten Lebak dalam menggelar Festival Literasi bukan efektif dalam menurunkan angka buta aksara, melain hanya seremonial semata,” tuturnya.
Ia juga katakan, Bupati Lebak harus segera mengambil langkah dalam mengatasi tinggi angka buta aksara dan bisa secepatnya menurunkan. (red)
.
